Asosiasi Penyamakan Kulit Indonesia (APKI) sampai saat ini masih terkendala dengan stagnasi bahan baku kulit sapi Jawa. Padahal bahan baku kulit sapi Jawa sangat diperlukan untuk memenuhi ekspor sepatu kulit ke Amerika dan Eropa.
SUTJIPTO HARSONO Ketua APKI Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Kamis (10/05), mengatakan, rata-rata pabrik kulit tidak memiliki buffer stock. Akibatnya, saat mendapatkan order pabrik masih mencari bahan baku.
Otomatis harga kulit sapi Jawa naik. Kulit sapi Jawa, kata SUTJIPTO, merupakan bahan produk sapi dari industri daging. Jika ada sapi Jawa yang dipotong 100 sementara kebutuhan pabrik kulit 500, otomatis kulit sapi yang tersedia tetap hanya 100. Dampaknya, terjadi perang harga.
“Sementara kapasitas terpasang dari produksi pabrik kulit cukup besar antara 18 hingga 50 ton per hari. Tapi dengan stagnasi bahan baku kulit sapi Jawa, hanya bisa terpenuhi 30%-40% saja,”ujarnya.
SUTJIPTO mengatakan bahan kulit sapi Jawa banyak diperoleh dari Jawa Timur (40%), Jawa Tengah (30%-40%) dan Jakarta (20%). Harga ekspor kulit sapi Jawa hampir sama untuk pasar internasional yakni US$ 2 per m2 kaki.
Untuk mengatasi stagnasi bahan baku kulit sapi Jawa, APKI Jatim sudah mengimbau Dinas Peternakan tentang upaya pengembangan sapi Jawa. Mengingat selama ini hanya melakukan impor daging sapi dari Australia.
“Jika bahan baku kulit sapi Jawa tidak ada, terkadang menggunakan kulit sapi luar Jawa. Namun dari segi kualitas tidak bisa dijamin karena masih unggul dan lebih bagus menggunakan bahan baku kulit sapi Jawa dibandingkan sapi dari luar Jawa,”pungkasnya.
Teks foto :
– SUTJIPTO HARSONO
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

