Jumat, 16 Oktober 2026
Permintaan TKI Luar Biasa

Apjati Kirimkan Ratusan Ribu TKI

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Permintaan tenaga kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri pada 2008 khususnya sektor formal, luar biasa. Tiga negara yang siap menampung TKI, diantaranya, Arab Saudi, Malaysia dan Australia Barat.

Hal ini disampaikan BENNY P KEDANG STP Sekretaris Apjati Jawa Timur pada suarasurabaya.net, Senin (24/12), menyikapi peluang bagi TKI Jawa Timur di tahun 2008.

BENNY mengatakan mulai Januari 2008, Apjati (Asosiasi Pengusaha Jasa Tenaga Kerja Indonesia) Jawa Timur melalui konsorsium “An Nur” akan mengirimkan 100 ribu tenaga kerja ke Arab Saudi. Ratusan ribu tenaga kerja itu untuk memenuhi kebutuhan pembangunan kontruksi rel kereta api Mekah-Madinah sepanjang 575 km.

“Mereka membutuhkan general workers dengan gaji 1050 real per bulan. Ini kesempatan bagus bagi TKI karena pekerjaan yang ditawarkan adalah sektor formal. Usia yang dibutuhkan 18-40 tahun dan harus sehat jasmani-rohani,”ujarnya.

Selain ke Arab Saudi, BENNY mengatakan, permintaan Malaysia juga cukup tinggi. Pekerjaan yang ditawarkan bagi TKI adalah sektor formal bidang umum. Malaysia membutuhkan 100 ribu TKI untuk pembangunan kawasan Iskandar di Johor Bahru.

Sedangkan Australia Baru, ungkap BENNY, Dinas Tenaga Kerja Pemprop Jawa Timur masih dalam proses pembahasan. “Yang jelas prospek di Australia Barat tidak kalah bagusnya bagi TKI Jawa Timur,”tukasnya.

BENNY menjelaskan penempatan TKI Jawa Timur keluar negeri selama 2007 mengalami penurunan hingga 80%. Faktor penyebabnya cukup banyak, diantaranya, perubahan UU No.39/2004 tentang penempatan dan perlindungan tenaga kerja keluar negeri untuk sektor informal (pembantu rumah tangga) minimal berusia 21 tahun.

Padahal usia 21 tahun, kata BENNY, merupakan usia menikah. Di kalangan stake holder, juga ada perlakuan tidak seragam dalam menyikapi perubahan UU dan ini menimbulkan trauma bagi TKI. Faktor lainnya, asuransi TKI meningkat dari Rp 110 ribu per orang menjadi Rp 400 ribu per orang.

Naiknya biaya asuransi bagi TKI di sektor formal sangat berpengaruh. “Akibatnya, lebih dari 50% TKI memilih jalur pintas dan tidak terdeteksi karena lebih praktis dan murah. Ini bisa dilihat data di Dinas Tenaga Kerja tentang TKI yang dikembalikan ke Indonesia melalui Perak dan Juanda, yang terus meningkat. Artinya, penempatan secara legal proseduran menurun tetapi pemberangkatan ilegal terus naik dan pemerintah menanggung risiko pemulangan TKI,”paparnya.

BENNY yang juga Presiden Direktur PT Anugerah Usaha Jaya –perusahan pengiriman jasa tenaga kerja—mengatakan sampai November 2007 kemarin, pihaknya berhasil menempatkan 62 ribu TKI dan tahun lalu 70 ribu TKI. Negara tujuan penempatan masih didominasi Malaysia, Hong Kong dan Taiwan.

Untuk pekerjaan sektor informal di Malaysia, sebut BENNY, gaji pokok yang diterima TKI Rp 2 juta/bulan, Singapura Rp 2,5 juta/bulan dan Brunai Rp 2 juta. Sedangkan di Taiwan dan Hong Kong sudah cukup bagus di kisaran Rp 4 juta/bulan hingga Rp 5 juta/bulan.

“Sebenarnya Apjati sebagai mitra pemerintah sudah melakukan prosedur dan ketentuan UU. Hanya saja perlu konsistensi pengawasan termasuk mempermudah prosedur dan realisasi pelayanan satu atap. Karena pelayanan satu atap sudah diawali dengan administrasi kependudukan namun hingga saat ini belum mewujudkan pelayanan satu atap,”pungkasnya. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
29o
Kurs