Meski dana pemerintah untuk subsidi perumahan sudah habis, namun PT Bank Tabungan Negara (BTN) Tbk tetap komitmen memberikan KPR bersubsidi. Ini ditujukan agar pengembang memiliki kepastian untuk membangun Rumah Sehat Sederhana (RS).
Menurut IQBAL LATANRO SE,Msi Direktur BTN bidang kredit di sela seminar “Menyongsong Tahun 2008 dengan KPR BTN Platinum”, Rabu (07/11), di Hotel Shangri-La, sistem on off yang selama ini diberlakukan memang tidak memberikan kepastian lagi. Untuk itu, BTN meningkatkan kredit subsidi yang menjadi target pemerintah maupun kredit non subsidi.
Dana pemerintah untuk KPR bersubsidi, ditegaskan kembali oleh IQBAL, sudah habis dan ini kenyataan. Dana subsidi sekitar Rp 300 milyar habis sebelum waktunya karena tahun-tahun sebelumnya susbidi rumah sederhana jauh dari target dan penyerapannya rendah. Imbasnya, BTN diberi target rendah oleh pemerintah untuk kredit bersubsidi.
IQBAL menjelaskan posisi kredit bersubsidi BTN terus mengecil. Tahun 2001 posisi kredit bersubdisi BTN masih 63%, namun tahun 2006 turun jadi 46%. “Meski terjadi penurunan tetapi BTN tetap absorbe seluruh kredit yang ada di masyarakat,”
ujarnya.
Kinerja kredit BTN tahun ini, kata IQBAL, sedikit terlampau dibanding tahun 2006. Target kredit tahun ini dinaikkan 122% lebih tinggi dari 2006. Sedangkan ekspansi (new landing) ditargetkan bisa mencapai 78% termasuk syariah. “Realisasinya, dari Rp 7,8 trilyun sudah tercapai Rp 6,4 trilyun atau mendekati angka 85%,”tukasnya.
Khusus KPR Platinum, IQBAL menjelaskan, merupakan inovasi BTN untuk menangkap pasar di atas kelas Gold. Apalagi pengembang yang bermitra dengan BTN selama ini semakin besar dan otomatis kelasnya juga naik.
Namun pengembangan produk KPR Platinum, tambah IQBAL, dipicu keinginan BTN mengembangkan kapasitasnya. “Kalau BTN hanya untuk kredit bersubsidi, kapasitas berkembang sangat sulit. Subsidi banyak keterbatasan baik harga jual, penghasilan yang secara korporat akan tergantung dengan target-target itu,”pungkasnya. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

