Imbauan untuk tidak minum air PDAM Surabaya ternyata belum diikuti meningkatnya permintaan air minum dalam kemasan. Ini diungkapkan ANDREAS TIKNO Ketua Asosiasi Pengusaha Air Dalam Kemasan Jawa Timur.
Pada suarasurabaya.net, Kamis (01/11), ANDREAS mengatakan dari laporan para anggota asosiasi, belum ada peningkatan signifikan penjualan air dalam kemasan.
Menurutnya, jika imbauan untuk tidak meminum air PDAM ini hanya berlaku 1-2 hari saja, dipastikan tidak akan berdampak langsung pada peningkatan penjualan air minum dalam kemasan.
“Sekarang ini konsumen masih banyak pilihan, diantaranya air minum isi ulang dan instalasi penjernihan air yang dipasang mandiri di rumah-rumah. Untuk air minum dalam kemasan, kita masih stabil dalam penjualan,” ujarnya.
Ditambahkan ANDREAS, peningkatan penjualan air minum dalam kemasan bisa terjadi jika imbauan untuk tidak minum air PDAM itu berlaku minimal dalam tempo seminggu. “Minimal seminggu ada imbauan tidak minum air PDAM, mungkin permintaan airdalam kemasan bisa meningkat,” ujarnya.
Ini, seingat ANDREAS, pernah terjadi beberapa tahun lalu di Surabaya. Saat itu akibat penggelontoran besar-besaran Kali Surabaya, air dari PDAM Surabaya menjadikeruh selama lebih dari seminggu. Dampaknya dirasakan oleh pengusaha air minum dalamkemasan yang saat itu kebanjiran permintaan.
“Sebenarnya kita juga tak ingin ada ledakan permintaan dalam waktu yang sangat singkat. Kita bisa kewalahan dalam distribusinya nanti,” kata dia.(edy)
NOW ON AIR SSFM 100

