Jumat, 16 Oktober 2026
KTT Perubahan Iklim

Citra Naik, Bali Merugi Rp 500 Milyar

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Perubahan Iklim di Bali mampu meningkatkan citra pemerintah Indonesia di tingkat ASEAN. Tapi ironisnya, ekonomi di Bali justru merugi di kisaran Rp 500 milyar selama konferensi berlangsung.

Hal tersebut diungkapkan GDE WIRATHA Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Bali pada suarasurabaya.net, Senin (03/12), terkait efek domino di sektor perekonomian atas pelaksanaan KTT Perubahan Iklim di Bali, 3-14 Desember 2007.

Kata WIRATHA, banyak wisatawan reguler justru tidak bisa masuk ke Bali. Ini terkait dengan alasan keamanan dari Pemerintah Indonesia terpaksa membooking 52 ribu kamar yang ada di Bali. Padahal dari 52 ribu kamar hanya terpakai untuk 15 ribu peserta KTT ditambah 5 ribu wartawan.

Rata-rata per hari jumlah wisatawan ke Bali sebesar 7000 orang. Selama sebulan bisa mencapai 210 ribu orang. Pelaksanaan konferensi sendiri hampir 2 dua minggu, berarti wisatawan yang bisa masuk ke Bali hanya separuhnya saja atau sekitar 100 ribu orang.

Kalau setiap wisawatan spend money Rp 5 juta saja, bisa dihitung berapa uang yang tidak bisa masuk ke Bali selama konferensi berlangsung. Yang baru bisa dihitung, kerugian di kisaran Rp 500 milyar.

Pemerintah memang mem-booking seluruh kamar hotel. Tapi, kata WIRATHA, tidak memberikan kontribusi ke kamar yang tidak terpakai. Selama konferensi, seluruh tamu otomatis tidak keluar dari hotel karena seluruh kebutuhannya sudah disiapkan di hotel.

Sementara di luar kawasan, obyek wisata rafting tidak jalan, penampilan Tari Kecak dan Barong tidak ada yang menonton, karena wisatawan reguler tidak bisa booking hotel. Paling-paling yang bisa dijual masyarakat Bali hanya nasi Jenggo atau baju-baju murah seharga Rp 5000-an.

Setiap ada agenda besar di Bali, ungkap WIRATHA, pasti yang menikmati nilai ekonominya hanyalah Pemerintah Pusat. Mulai alat tulis kantor, pendirian tenda sampai media partner seluruhnya dikerjakan pusat.

Lebih dari 50% biaya untuk konvensi, dilakukan orang-orang Jakarta. Tidak pernah melibatkan masyarakat Bali maupun pelaku industri di Bali. Akibatnya, pelaku bisnis dan masyarakat Bali hanya gigit jari.

Mulai H-7 pelaksanaan KTT Perubahan Iklim sampai hari ini, kata WIRATHA, masyarakat Bali juga tidak tahu ada apa sebenarnya di Bali. Masyarakat hanya beranggapan ada Menteri dan Presiden di Bali untuk kunjungan biasa.

Pelaksanaan KTT, WIRATHA menilai, pengaturannya terlihat tidak integrated. Terjadi kemacetan 1,5 jam di kawasan Nusa Dua karena masing-masing delegasi dari 180 negara memiliki protokoler sendiri-sendiri.

WIRATHA menambahkan memang posisi Indonesia melejit di kawasan ASEAN. Karena Malaysia, Singapura maupun Myanmar tidak mampu menggelar perhelatan internasional yang dihadiri banyak negara. (tin)

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
35o
Kurs