Senin, 19 Oktober 2026

Eksportir Genjot Kinerja Ekspor Melalui Daya Saing

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan

Tantangan yang dihadapi eksportir semakin berat. Tapi mereka bertekad genjot perolehan devisa negara melalui peningkatan daya saing produk di pasar global.

Kinerja ekspor nonmigas Indonesia yang pada 2006 mampu menembus 100 miliar dolar AS, diharapkan terus tumbuh antara 14,5 -20 persen, kendati tantangan yang dihadapi dunia usaha, khususnya eksportir semakin berat. Tantangan itu tidak hanya dari faktor internal tetapi juga eksternal.

ISDARMAWAN ASRIKAN Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Indonesia (GPEI) Jatim, menjelang Musda dan Munas GPEI, di Surabaya dalam press release-nya, Selasa (24/04) mengatakan, tantangan secara eksternal diantaranya berupa pertumbuhan pasar yang diperkirakan menurun. Pasar dunia pada 2007 diperkirakan turun menjadi 7,9 persen dibanding tahun sebelumnya sebesar 8,9 persen. Kondisi itu dikhawatirkan akan membuat persaingan di pasar global semakin ketat.

Faktor lainnya, kemungkinan melemahnya harga komoditi primer yang dipicu oleh pertumbuhan eksternal dan meningkatnya stok di pasar dunia. Selain itu, masih berlangsungnya kampanye negatif maupun peningkatan berbagai syarat teknis yang dikaitkan dengan masalah kesehatan dan lingkungan terhadap beberapa produk ekspor Indonesia seperti Crude Palm
Oil (CPO), kopi, udang, sepatu dan furnitur, juga akan ikut menekan kinerja ekspor.

Indeks harga komoditi primer utama ekspor Indonesia seperti batu bara, CPO, karet alam, tembaga dan timah diperkirakan turun 3,4 persen di 2007 dan 13 persen di tahun 2008.

Sementara itu, secara internal ditambahkan ISDARMAWAN, pengusaha kini juga dihadapkan dengan kondisi perekonomian yang kurang kondusif akibat keterbatasan kemampuan pemerintah dalam menyediakan infrastruktur yang kompetitif.

Hambatan dan tantangan tersebut harus diselesaikan secara bersama-sama oleh pemerintah, pengusaha maupun pekerja sehingga kemampuan daya saing produk Indonesia menjadi lebih kompetitif dibanding negara-negara pesaing.

Hambatan yang diakibatkan faktor eksternal, diharapkan dapat dikurangi melalui melakukan pendekatan secara bilateral guna mendapat akses pasar yang lebih kompetitif untuk setiap komditi ekspor dan negara tujuan ekspor.

Cara lainnya, menggunakan hak-hak sebagai negara anggota World Trade Organisation (WTO ) untuk melakukan perlindungan terhadap komoditi indusrtri, pertanian dan yang lainya dari serbuan dari negara eksportir dengan menggunakan instrumen-instrumen yang diperkenankan oleh WTO.

Instrumen-instrumen itu diantaranya kebijakan yang berhubungan dengan anti Dumping Duty, Countervailing Duty, safeguard mechanisme atau special safe guard, melalui peningkatan kinerja personel di Komite Anti Dumping Indonesia (KADI) Departemen Perdagangan.

Menurutnya, untuk mengatasi hambatan yang bersifat internal, diharapkan pemerintah dapat mempercepat pembangunan pembangkit tenaga listrik non BBM sehingga harga energi per Kilo Watt Hour (KWH)-nya berkurang atau maksimum lima cent dolar AS.

Guna menunjang aktivitas distribusi, dapat ditempuh dengan pembangunan jalan tol yang menghubungkan sentra Industri komoditi ekspor dengan pelabuhan laut. Upaya lainnya, sistem ketenagakerjaan hendaknya lebih konstruktif dan motivatif untuk meningkatan produktivitas, sistem perpajakan yang memberikan insentif bagi eksportir, peningkatan penyediaan pendanaan kredit serta biaya bunga uang yang kompetitif dibanding negara pesaing untuk aktifitas produksi serta perdagangan ekspor, ujar ISDARMAWAN.

Sementara itu, Peraturan Daerah (Perda) yang diterbitkan daerah-daerah diharapkan juga berpihak pada kegiatan ekspor serta terus mendorong tumbuhnya invetasi domestik maupun asing.

Dengan koordinasi secara intensif antar berbagai pihak terkait disertai upaya-upaya serius dan konkrit, dunia usaha, utamanya eksportir optimistis kinerja ekspor akan terus tumbuh.

Apalagi, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) kinerja ekspor pada awal 2007 cukup menggembirakan. Nilai ekspor Indonesia pada Pebruari 2007 mencapai 8,32 miliar dolar AS atau turun 0,44 persen
dibandingkan ekspor Januari 2007. Namun, jika dibandingkan dengan ekspor pada Pebruari 2006, meningkat sebesar 12,43 persen. Dari ekspor tersebut, ekspor nonmigas pada Pebruari 2007 mencapai 6,86 miliar dolar AS.

Dijelaskan ISDARMAWAN, secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia pada Januari-Pebruari 2007 mencapai 16,67 miliar dolar AS atau meningkat 11,47 persen dibandingkan periode yang sama 2006. Sedangkan ekspor nonmigas sendiri pada Januari-Pebruari 2007 mencapai 13,72 miliar dolar AS atau meningkat 19,39 persen ketimbang periode yang sama tahun lalu.

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Senin, 19 Oktober 2026
28o
Kurs