Pemerintah Malaysia mulai mengubah strategi investasinya ke Indonesia. Kalau sebelumnya membidik sektor industri dengan modal besar, diubah ke sektor industri kecil dengan raw material yang ada di Indonesia.
HARIDAS NAGALINGAM Trade Commissioner Malaysia External Trade Development Corporation –seperti Badan Pengembangan Ekspor Nasional—pada suarasurabaya.net, Jumat (30/11), mengatakan, perubahan strategi investasi ini terkait dengan adanya UU Investasi yang baru di Indonesia. UU Investasi dinilainya lebih friendly termasuk adanya Free Trade Zone.
Menurut HARIDAS, setiap investor di Malaysia yang sudah menanamkan investasinya tidak boleh mengembangkan di Malaysia. Ini terkait dengan land cost yang tinggi. Untuk itu, investor Malaysia diarahkan mengembangkan industrinya di luar Malaysia ke daerah terdekat yang ada di Indonesia, seperti Kepulauan Riau maupun Padang.
Model investasinya, ungkap HARIDAS, tidak lagi mutly national company tetapi dalam bentuk joint venture program. Sektor yang industri yang dibidik, tidak lagi perbankan maupun telekomounikasi tetapi lebih kepada industri otomotif, perkebunan jagung dan juga peternakan (industri pangan) dan industri kayu. Berikut penjelasan HARIDAS, {clip*1}.
Dengan membidik sektor-sektor tersebut, diakui HARIDAS, nilai investasinya akan menurun dibanding tahun 2006 maupun 2007. Kalau tahun 2006, saat industri besar seperti perbankan dan telekomunikasi masuk ke Indonesia, nilai investasi bisa mencapai US$ 2,1 milyar. Tahun 2007, nilai investasi ditargetkan US$ 1,5 milyar dan tahun 2008 masih dalam proses perhitungan.
Meskipun strategi sudah diubah, namun sektor investasi yang sudah ada di Indonesia tetap terus berjalan. Khusus di Surabaya, HARIDAS mengatakan, beberapa industri joint venture Malaysia sudah ada yang berjalan maupun dalam tahapan rencana.
Yang sudah berjalan, diantaranya, industri packaging seafood dan plastik. Sementara arus perdagangan dari Malaysia ke Surabaya, umumnya dalam bentuk barang setengah jadi, dirakit di Surabaya untuk diekspor ke Bali dan daerah-daerah lainnya. Termasuk produk-produk pertanian yang dibeli di Sulawesi.
HARIDAS mengatakan Surabaya menjadi pusat perdagangan Malaysia. Untuk itu, sarana dan prasarananya harus dibuat lebih bagus lagi. (tin)
Teks foto :
– HARIDASS NAGALINGAM
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

