Penanganan akses Raya Porong sampai saat ini belum tuntas. Luberan air dan lumpur ke Raya Porong menyebabkan beberapa pengusaha perbankan resah.
Seperti diungkapkan PAUL MATULI Direktur Utama BPR Kuda Mas Sentosa yang memiliki kantor kas di Raya Porong. Pada suarasurabaya.net, Senin (09/04), PAUL mengatakan, sebenarnya akses Raya Porong masih bisa diatasi Pemerintah dan Timnas Penanggulangan Lumpur Lapindo.
Akses masih bisa dilalui, meski harus melalui luberan air. Untuk itu, ia minta Pemerintah tidak terburu-buru memvonis Raya Porong sebagai kota ‘mati’. Jika vonis ini diputuskan, pengusaha perbankan termasuk dirinya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dan transaksi perbankan otomatis berhenti total.
Sejak terjadi musibah lumpur Lapindo, kegiatan perbankan di Raya Porong, kata PAUL, tidak terganggu secara signifikan. Portofolio kredit di BPR Kuda Mas Sentosa hanya 3% yang mengalami kredit macet.
Kredit macet 3% itu, menurut PAUL, masih bisa diatasi dengan cara BPR jemput bola ke nasabah. Dan nasabah yang rata-rata korban lumpur, bisa mengembalikan kredit dari bantuan yang diterima Lapindo Rp 300 ribu per bulan.
“Dana bantuan yang diterima mayoritas korban Lapindo sebagian digunakan untuk membayar cicilan kredit BPR. Untuk itu, kita berharap jangan sampai Raya Porong divonis kota ‘mati’ kecuali kalau memang dinyatakan bencana alam,”paparnya.
PAUL menegaskan Bank Indonesia sendiri telah merestrukturisasi perbankan di Raya Porong dengan cara memperpanjang masa pengembalian kredit dan mempermudah nasabah mengangsur. Ini sudah dilakukan pihaknya, termasuk menyiapkan emergency plan.
“Yang terpenting adalah transaksi perbankan tetap berjalan dan jangan sampai berhenti total. BPR sendiri lebih banyak menyalurkan kredit untuk modal usaha,”pungkasnya.
NOW ON AIR SSFM 100

