Pasar minyak goreng (migor) curah tidak hanya terganggu dengan kenaikan harga Crude Palm Oil dunia, tapi terus menerus pasarnya mengecil. Ini dipicu dengan kehadiran minyak goreng kemasan.
SUDICOK TANDUWINATA Operation Manager PT Mega Surya Mas –produsen migor— pada suarasurabaya.net, Selasa (08/05), mengatakan pasar migor curah terus mengecil tergerus migor kemasan yang saat ini lebih populer di kalangan masyarakat. Alasannya, lebih higenis, tanpa kolesterol.
Meski pasarnya terus mengecil khususnya di kota, migor curah masih memiliki segmen pasar tersendiri. Berikut penjelasan SUDICOK, {clip*1}.
Bagi PT Mega Surya Mas, pasar migor curah yang mengecil tersebut tidak ada masalah. Hampir 70% produksi Mega Surya Mas berupa minyak goreng, 30% berupa produk turunan minyak goreng seperti sabun dan margarine.
Dengan keterlibatan pemerintah yang membantu menekan kenaikan harga CPO, pasar bagi produk turunannya tetap ada. Ini mengingat sabun, margarine dan produk turunan lainnya merupakan kebutuhan sehari-hari.
Kapasitas produksi migor curah PT Mega Surya Mas, sebut SUDICOK, sekitar 1000 ton/hari. Yang terserap pasar sesuai kebutuhan konsumsi migor curah di Jawa Timur sebesar 755 ton/hari.
Persaingan di pasar migor curah, tambah SUDICOK, terserah pasar. Masing-masing produsen mempunyai market. Masyarakat bisa melihat kualitas dan harga produk dari masing-masing produsen.
NOW ON AIR SSFM 100

