Selasa, 20 Oktober 2026
Prospek Investasi Positif

Pemerintah Jangan Tunda Infrastructure Project

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Prospek investasi di Indonesia selama 2007 ke depan sangat positif. Indikatornya, tingkat suku bunga cenderung turun dan surat utang negara yield-nya makin menurun. Demikian disampaikan MS SEMBIRING Direktur PT Bursa Efek Jakarta, usai seminar “Pandangan Investasi di Tahun 2007” yang digelar Bank HSBC Surabaya, di Hotel JW Marriott, Kamis (25/01).

SEMBIRING menjelaskan indikator tersebut juga terefleksikan pada indeks harga saham gabungan meningkat terus. Artinya, harga saham makin membaik. “Kalau apa yang kita dengar dari calon investor baik dalam maupun luar negeri, tingkat kepercayaan mereka pada pemerintah cukup tinggi. Itu ditandai dengan mereka tetap masuk ke Indonesia, meski masih berupa porto folio investasi. Tapi ini normal dimana investasi dimulai dengan porto folio investasi dulu, baru kemudian menyusul ke sektor direct investment,”ujarnya.

Iklim investasi yang baik tersebut, kata SEMBIRING, akan terealisasi kalau infrastructure project yang sedang dikerjakan pemerintah tidak ditunda-tunda lagi. Ekonomi kita sudah mengarah pada yang benar dan kondisinya tentu lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya.

Investasi yang perlu dikembangkan, menurut SEMBIRING, bidang infrastruktur yang memang masih sangat kurang terutama jalan dan listrik. “Kita tidak bisa mengembangkan infrastruktur yang lain, kalau infrastuktur jalan, bandara dan pelabuhan tidak dibenahi. Pemerintah sendiri sudah memprioritaskan investasi infrastruktur melalui Infrastructure Summit maupun Infrastructure Seminar. Itu ditujukan untuk menyiapkan pergerakan industri ikutannya,”paparnya.

Dalam investasi ke depan, Indonesia cukup optimis. Paling tidak ada dua hal yang mendukung terciptanya investasi tersebut yakni segi dana dan aturan investasi. Dari segi dana, kata SEMBIRING, Indonesia memiliki sumber pendanaan dan tidak perlu diragukan lagi. Semakin banyak dana yang dibutuhkan, semakin banyak investor tertarik untuk masuk.

“Dana dari Timur Tengah juga akan masuk. Mereka memiliki Islamic Fund sebesar US$ 1,2 trilyun dan mencari tempat investasi dengan nilai di atas US$ 50 juta,”tukasnya.

Sedangkan dari regulasi investasi tinggal diselesaikan secepatnya. Misalnya, untuk membangun jalan tol bagaimana regulasi pembebasan tanahnya atau masalah perburuhan.

Sementara sektor apa saja yang perlu dibiayai, SEMBIRING mengatakan, pembangunan jalan tol dan listrik. Pembangunan monorel di Jakarta, dana yang tersedia cukup besar dan sudah terkumpul mencapai US$ 500 juta. Hanya saja, belum bisa direalisasikan pelaksanaannya karena belum ada sinkronisasi antara Pemerintah, DPRD dan Departemen Keuangan terkait pertanggungjawaban pengembalian dananya.

Di pasar modal, tren yang menonjol tetap di sektor infrastruktur yang masih kita miliki seperti telekomunikasi, PN Gas yang secara infrastruktur punya jaringan perpipaan, pertambangan dan agro industri. Diharapkan infrastruktur tersebut berkembang ke depan karena saham-saham mereka sebagai motor penggerak indeks harga saham gabungan (IHSG) saat ini.

Dari pendapat para pelaku dan analis yang diperoleh SEMBIRING, IHSG sampai ke 2200. Angka itu dipicu adanya pertambahan perusahaan yang go public maupun kenaikan harga sahamnya.

BEJ menargetkan tahun 2007 ini ada 25 perusahaan listing, sementara tahun 2006 hanya 12 perusahaan saja. Perusahaan yang listing tersebut bergerak di bidang perkebunan, pertambangan dan sebagian manufaktur.

Teks foto :
– MS SEMBIRING bersama HARTINI SAPUTRA SVP dan BM Surabaya HSBC
Foto : TITIN suarasurabaya.net

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Eits, Miring

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Surabaya
Selasa, 20 Oktober 2026
27o
Kurs