Pertumbuhan Perbankan Syariah di tanah air cukup menggembirakan namun di sisi lain mulai merisaukan. Ini disebabkan ada peningkatan pembiayaan bermasalah.
M. NASIR Direktur Pusat Pengembangan Ekonomi Islam dan Sumber Daya Islami Universitas Airlangga (Unair) pada RULLY reporter Suara Surabaya, Jumat (05/01), mengatakan, trend sekarang Perbankan Syariah makin dimudahkan pendiriannya.
Total Perbankan Syariah yang sudah ada, kata NASIR mengutip data Bank Indonesia mencapai 100 bank terbanyak kategori BPR. Sekarang sesudah 15 tahun era Perbankan Syariah di tanah air Perbankan Syariah sudah menguasai market share hampir 1,5%. Pembiayaan Syariah juga sudah tembus Rp 20 trilyun per tahun. Dibandingkan data 2005, terjadi peningkatan signifikan hingga lebih 30%.
NASIR menegaskan pembiayaan bermasalah atau MPS juga ikut meningkat. Semula hanya 2,8% di tahun 2005 naik dua kali lipat menjadi 5,2% di 2006.
Kata NASIR, ini perlu dicermati oleh Bank Indonesia untuk mengantisipasi lebih lanjut. Bank Indonesia diminta tidak memberikan kelonggaran-kelonggaran berlebihan untuk memacu petumbuhan Bank Syariah di tanah air. Berikut penjelasan NASIR, {clip*1}.
Menurut NASIR, maraknya Bank Syariah juga tanpa peningkatan sistem dan SDM. Khawatirnya, ini akan mengulang krisis moneter 1997 yang diantaranya dipicu kemudahan Bank Indonesia dalam pendirian bank di tahun 1988 dalam kebijakan Pakto 1988.
NOW ON AIR SSFM 100

