Jumat, 16 Oktober 2026
Negara Produsen Terganggu

Persaingan Beras Internasional Semakin Tajam

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Persaingan beras internasional semakin tajam. Beberapa negara produsen beras seperti China dan Vietnam mulai terganggu produksinya, akibat musibah banjir.

MUSTAFA ABUBAKAR Dirut Perum Bulog yang ditemui suarasurabaya.net saat berkunjung ke Suara Surabaya Media, Jumat (02/11), mengatakan, dari informasi yang diterimanya menyebutkan China sampai harus impor beras dari Jepang. Kondisi ini perlu diwaspadai.

Indonesia, kata MUSTAFA, jangan sampai kekurangan sumber-sumber untuk memperkuat atau menambah kekurangan yang ada dalam negeri. Setiap tahun berdasarkan pengalaman selama ini, Indonesia impor beras di kisaran 1 juta ton hingga 2 juta ton.

“Dari segi tantangan yang dihadapi, kita jangan sampai terlena atau kalah cepat memperebutkan suplai beras kelebihan luar negeri yang semakin kompetitif. Di sisi lain bisa dilihat ini peluang bagi Indonesia sebagai negara agraris yang sangat besar potensi sumber daya alam,”tukasnya.

MUSTAFA mengakui sebagai negara agraris dengan potensi alam yang besar belum tergarap optimal. Ini disebabkan krisis ekonomi dan moneter yang dialami Indonesia. Sekarang kondisinya berbeda, fasilitas irigasi yang semula rusak sudah disediakan anggaran perbaikan untuk 2008, tersedia teknologi terbaru pembudidayaan padi dan benih unggul.

Dengan adanya peluang, komponen yang mendukung dan terbukanya world market, Indonesia optimis bisa mewujudkan swasembaga pangan pada tahun 2010. Berikut penjelasan MUSTAFA,{clip*1}.

Secara bertahap impor beras bisa dikurangi. Kalau swasembada pangan sudah diwujukan makan tingkat suplai kebutuhan dalam negeri melebihi kebutuhan dalam negeri bisa dijadikan komoditas ekspor.

Negara yang dibidik, prediksi MUSTAFA, negara tetangga terdekat seperti Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam dan Hongkong. “Tiga hari lalu kita bicara dengan Bernas –Bulog Malaysia—dan mereka welcome jika Indonesia ekspor beras ke sana. Apalagi kita satu rumpun dengan taste tidak jauh beda. Disamping itu, Malaysia selama ini impor dari Vitenam,”ungkapnya.

Untuk menuju swasembada pangan, MUSTAFA menjelaskan, pengurangan impor beras jadi satu strategi tersendiri. Tahun 2007 ini pemerintah mengijinkan impor beras 1,5 juta ton tapi baru terealisasi 1 juta ton lebih sedikit.

Masih ada sekitar 300 ribu ton dalam posisi terikat kontrak dan proses masuk ke Indonesia serta 105 ribu belum terikat kontrak. Sementara produksi beras per hektar sudah bisa ditingkatkan dari 4 ton-5 ton per hektar sekarang jadi 8 ton-10 ton per hektar.

“Kalau dalam negeri kuat dan musim panen masih ada sampai Januari 2008 tidak tertutup kemungkinan impor beras 2008 lebih kecil. Bulog saat ini lakukan kajian hitung potensi ketersediaan beras di masyarakat dan pengusaha dibandingkan persediaan beras di Bulog. Kemudian dihitung selama bulan defisit, November 2007-Januari 2008 akan ketemu dan berapa yang ditambah dari impor. Mudah-mudahan tanpa menambah impor akan cukup,”pungkasnya. (tin)

Teks foto :
– MUSTAFA ABUBAKAR
Foto : EDDY suarasurabaya.net

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Jumat, 16 Oktober 2026
33o
Kurs