Meskipun Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) 2005-2006 Jawa Timur mengalami pertumbuhan sebesar 5,8%, kenaikan tersebut dikritik para ekonom sebagai pertumbuhan yang tidak berkualitas karena tidak mengucur ke bawah (trickle down, melainkan mengucur ke atas (trickle up).
Ini diungkapkan SOEBAGYO ekonom Universitas Airlangga pada suarasurabaya.net, Jumat (03/08). Menurut SOEBAGYO, seperti yang terjadi umum di Indonesia, terjadi juga pemarginalan ekonomi mayoritas masyarakat Jawa Timur.
Tenaga kerja, kata SOEBAGYO, hanya mendapatkan sebagian kecil dari nilai lebih ekonomi yang diproduksinya. Sementara itu nilai lebih terbesar dinikmati sebagian kecil pemilik modal. “Artinya, pertumbuhan ekonomi ternyata tidak dirasakan oleh sebagian besar rakyat Jatim, melainkan hanya pemilik modal saja,” papar SOEBAGYO.
Tidak berkualitasnya pertumbuhan PDRB tersebut, menurut AHMAD ZAFRULLAH TN ekonom dari Universitas Surabaya diperparah dengan adanya potensi perlambatan pertumbuhan hingga tahun 2009 karena lumpur Porong.
“Saya berani memprediksi, pertumbuhan PDRB hingga tahun 2009 mendatang tiap tahunnya tak akan lebih dari 6%,” kata AHMAD.
Musibah lumpur Porong menyebabkan terjadinya ekonomi biaya tinggi akibat melonjaknya komponen transportasi dan hal ini akan terus berlanjut sampai dengan pemerintah berhasil membangun infrastruktur baru menggantikan jalan tol yang terputus dan jalan arteri serta rel KA yang terancam lumpur.
“Artinya, sampai dengan tahun 2009, ekonomi Jawa Timur akan mengalami pertumbuhan yang tidak berkualitas dan datar,” imbuh AHMAD.(edy)
NOW ON AIR SSFM 100

