Peluang pasar yang cukup besar bagi industri perlengkapan rumah tangga memicu munculnya gerai-gerai baru. Satu diantaranya, Queen Be Home Gallery yang menawarkan perlengkapan rumah tangga di kawasan Margorejo.
Selain pemain di industri tersebut masih sedikit, industri properti yang diprediksi bakal naik tahun ini, kata AGUSTYNUS SUGIANTO Marketing Manager Queen Be Home pada suarasurabaya.net, Rabu (24/01), mengatakan, ikut mendorong pertumbuhan industri perlengkapan rumah tangga.
AGUSTYNUS menilai industri perlengkapan rumah tangga merupakan complement dari industri properti. Untuk itu, sampai akhir 2007 ini pihaknya berencana menambah 2 gerai di wilayah Surabaya Barat , Malang dan Bali
“Di wilayah tersebut lahannya masih banyak, sehingga industri properti di sana bakal lebih baik dibandingkan tahun lalu. Di sisi lain membaiknya daya beli masyarakat di awal tahun ini dan penurunan BI rate yang mendorong penurunan bunga kredit perbankan, kita optimis bisnis di industri perlengkapan rumah tangga cukup bagus,”ujarnya.
Gerai Queen Be Home di Margorejo, kata AGUSTYNUS, menempati areal 1200 m2 dengan 10 ribu item produk. Dengan gerai tersebut diharapkan tercapat omset Rp 20 milyar – Rp 25 milyar. Investasi yang dianggarkan sebesar Rp 5 milyar akan Break Event Point (BEP) dalam 3 tahun.
Untuk pasar, AGUSTYNUS menjelaskan, Queen Be Home membidik segmen menengah atas atau middle up. Ini karena pasar di segmen itu lebih mengutamakan kualitas dan pelayanan dibandingkan harga. Produk yang ditawarkan, antara lain, house ware, tools, electric supplier, outdoor furniture, plumbing, pain.
Mempertimbangkan pasar itulah, pihaknya lebih banyak menawarkan produk dari luar negeri, seperti Belgia, Prancis, Italia, Belanda dan Cina. “Kira-kira 70% dari produk kita impor dan 30% dari lokal baik yang sudah bermerk maupun produk baru dengan jaminan kualitas, misalnya produk lampu,”paparnya.
Terkait dengan persaingan dengan pemain-pemain lama, AGUSTYNUS optimis bisa bersaing dan harganya sangat kompetitif. Pasalnya, produk yang diimpor berasal dari negara yang sama hanya saja kotanya berbeda. Ia mencontohkan untuk produk dari Cina, pihaknya memilih produk-produk yang diekspor Cina ke Eropa. Biasanya kualitas nomer satu dan dua. Sedangkan yang diekspor ke Asia kecuali Jepang, kualitasnya lebih rendah.
Teks foto :
– AGUSTYNUS SUGIANTO
Foto : Istimewa
NOW ON AIR SSFM 100

