Minggu, 18 Oktober 2026
Dewan Pakar Jatim

SOFYAN Ditarget Privatisasi Lewat Capital Market

Laporan oleh Noer Soetantini
Bagikan

Penunjukkan SOFYAN DJALIL mantan Menkominfo menjadi Menteri Negara BUMN menggantikan SUGIHARTO, menurut SOEBAGYO SE Dewan Pakar Pemprop Jawa Timur Koordinator Bidang Ekonomi dan Keuangan, kemungkinan untuk mencapai target privatisasi BUMN melalui pasar modal.

Kemungkinan pula, kata SOEBAGYO pada suarasurabaya.net, Senin (07/05), Presiden SUSILO BAMBANG YUDHOYONO menunjuk SOFYAN DJALIL sebagai the right man on the right place untuk mempercepat pencapaian privatisasi BUMN sesuai Washington Consensus.

Ada 10 butir dalam Washington Consesus, diantaranya, negara maju minta negara berkembang melakukan privatisasi untuk efisiensi keuangan, melalui Bank Dunia dan IMF. Dengan percepatan privatisasi melalui pasar modal, Indonesia bisa memenuhi permintaan Bank Dunia dan IMF.

SOEBAGYO melihat Presiden melakukan penggantian SUGIHARTO dengan SOFYAN DJALIL, kemungkinan berdasarkan prestasi SUGIHARTO menjalankan privatisasi BUMN yang tidak maksimal. Sehingga pergantian Menteri BUMN, merupakan waktu yang tepat dengan memilih SOFYAN DJALIL yang sebelumnya merupakan ‘orang dalam’ di Kementerian era TANRI ABENG.

Latar belakang SUGIHARTO, sebut SOEBAGYO, seorang manajemen keuangan pernah sebagai Chief of Finance Officer Medco. Saat SUGIHARTO ditunjuk Presiden menduduki posisi Meneg BUMN dengan harapan bisa mengawasi keuangan BUMN sekaligus menciptakan keuntungan yang besar untuk BUMN. Bisa mengefisiensikan keuangan BUMN sehingga setoran ke negara juga meningkat.

“Padahal masalah BUMN tidak hanya tergantung sektor finansial tapi juga SDM dan sebagainya. Saya tidak tahu pasti alasan Presiden SUSILO mengganti SUGIHARTO dengan SOFYAN. Bisa pula karena program privatisasi BUMN yang dilakukan SUGIHARTO dianggap kurang maksimal,”tukasnya.

Sementara latar belakang SOFYAN DJALIL, kata SOEBAGYO, bisa jadi alasan untuk menggantikan SUGIHARTO. Alasan Presiden, pertama SOFYAN punya pengalaman dan jaringan selama menjadi ‘orang dalam’ era TANRI ABENG. Kedua, SOFYAN ahli di sektor pasar modal. Dengan menempatkan SOFYAN diharapkan bisa mengubah pola program privatisasi yang dilaksanakan sejak era LAKSAMANA SUKARDI.

“Dulu era LAKSAMANA SUKARDI dan SUGIHARTO, privatisasi yang dilakukan dengan cara strategic partners. Privatisasi dijual ke investor yang punya uang dan itu artinya asing. Sayangnya, pola ini tidak maksimal meski ada perubahan finansial di keuangan BUMN,”papar SOEBAGYO.

SOEBAGYO menegaskan investasi satu diantara stimulus yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Investasi ini bisa dilakukan investor asing, swasta nasional maupun melalui BUMN. BUMN jika diprivatisasi maka perusahaan akan berkembang. Dampak selanjutnya, pertumbuhan ekonomi nasional bisa dipercepat.

Bagikan
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat Kol Terguling

Exit Tol Waru Awal Pekan

Mobil Tabrak Bangunan Semi Permanen

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Surabaya
Minggu, 18 Oktober 2026
28o
Kurs