Surabaya menjadi kota termahal kelima dari 45 kota yang ada di Indonesia. Ini berdasarkan tingkat nilai konsumsi di Surabaya mencapai Rp 3,06 juta per bulan secara rata-rata. Hal itu diungkapkan DR ALI ROSIDI Deputi Bidang Statistik Distribusi & Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) di seminar “Survei Beaya Hidup” (SBH), Selasa (18/12).
Nilai konsumsi Surabaya tersebut, kata ALI, mencakup biaya makanan, makanan jadi, perumahan, transportasi dan hiburan. “Ada 400 komoditi yang menjadi komponen penghitungan nilai konsumsi di Surabaya,”ujarnya.
Peringkat Surabaya sebagai kota termahal kelima tersebut menurun dibandingkan data BPS tahun 2002. Pada tahun 2002, Surabaya kota termahal ketiga setelah Jakarta dan Batam.
Menurut inflasi tahun 2002, kata ALI, Jakarta paling mahal dengan nilai konsumsi Rp 2,9 juta per bulan secara rata-rata, disusul Batam dengan nilai konsumsi Rp 2,4 juta per bulan secara rata-rata. Nilai konsumsi Surabaya sendiri sebesar Rp 2,1 juta per bulan.
Sedangkan kota termurah di tahun 2007 ini, ALI menjelaskan, Surakarta (Solo), Kediri dan Jember. “Untuk Solo menjadi kota termurah dari sisi perumahan, pondokan, dan pendidikan. Kalau ditangkap masyarakat dan kualitas pendidikan di sana bagus, para orangtua cenderung mengirimkan anak-anaknya kuliah ke sana,”tukasnya.
Selain memaparkan kota termahal dan termurah di Indonesia, ALI mengatakan, SBH 2007 yang akan memasuki putaran kedua ini sangat penting dilakukan. Angka Indeks Harga Konsumen (IHK) akan menjadi lebih lengkap, akurat dan dipercaya.
Survei beaya hidup diperbarui setiap 5 tahun berdasarkan rekomendasi UN-ILO dan ESCAP. Secara nasional SBH 2007 ini dilaksanakan di 66 kota dengan jumlah sampel blok sensus sebanyak 11.853 blok sensus dan 118.530 rumahtangga. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

