Bisnis jasa penerbangan sejak 4 tahun terakhir tumbuh dengan pesat. Sayangnya, pertumbuhan bisnis tersebut tidak diimbangi dengan pengawasan ketat pada jasa penerbangan yang melayani masyarakat. Ini ditegaskan HARYONO GONDOSUWITO Ketua Asita Jawa Timur menyikapi banyaknya kecelakaan pesawat.
Pada suarasurabaya.net, Kamis (04/01), HARYONO mengatakan, bisnis jasa penerbangan tumbuh di kisaran 15%-20% setiap tahun. Ini dipicu munculnya jasa penerbangan bertarif murah, sehingga masyarakat lebih banyak melakukan perjalanan dengan pesawat.
Sejak saat itu pula, kecelakaan pesawat semakin sering terjadi mulai yang tergelincir di landasan, ban meletus, pesawat jatuh dan sebagainya. Kecelakaan itu tidak hanya saat cuaca buruk saja. Dalam kondisi normal, juga terjadi.
Ironisnya, kata HARYONO, setiap terjadi kecelakaan pesawat tidak ada satu tindaklanjut kongkrit yang dilakukan pemerintah terhadap maskapai penerbangan yang mengalami kecelakaan. Akibatnya, belum usai kecelakaan yang satu disusul kecelakaan berikutnya. Hingga terakhir kemarin, pesawat Adam Air jatuh meski sebelumnya pesawat dari maskapai penerbangan yang sama juga mengalami kecelakaan.
“Bagi masyarakat awam bisa melihat bagaimana track record maskapai tersebut. Cuma pemerintah saja tidak ada tindakan apapun. Tidak hanya Adam Air yang lepas dari pengawasan pemerintah. Saat ini banyak pesawat bertarif murah seperti Lion Air, Airefata, Sriwijaya Air, Batavia Air yang juga masuk ke segmen yang sama,”paparnya.
Dengan kejadian kecelakaan dari jasa penerbangan, kata HARYONO, masyarakat diberikan pilihan dengan melihat track record maskapai penerbangan. Apakah menggunakan jasa penerbangan dari maskapai yang armadanya sering jatuh, tergelincir atau yang track record-nya lebih baik.
HARYONO menjelaskan masyarakat bisa melihat kondisi armada yang dipakai maskapai penerbangan. Apakah armadanya benar-benar baru, armadanya usia tua yang dicat ulang sehingga baru, semua kembali pada masyarakat yang akan memanfaatkan jasa penerbangan. Masyarakat diberikan pilihan terhadap safety yang diberikan maskapai penerbangan.
Seperti halnya, pasca jatuhnya pesawat Adam Air Senin (01/01) lalu yang sampai saat ini belum ditemukan lokasinya. Menurut HARYONO, sebagian masyarakat yang semula menggunakan pesawat non Garuda beralih memilih Garuda meski dengan harga lebih mahal.
“Situasinya memang seperti itu. Jika ada pesawat jatuh, masyarakat tidak membeli tiket pesawat tersebut melainkan pesawat yang berbeda. Tapi ini tidak berlangsung lama, paling hanya 2 minggu setelah itu balik lagi, seperti halnya saat Lion Air tergelincir, penjualan tiketnya sempat menurun 10 hari dan setelah itu normal lagi,”ujarnya.
Menurut HARYONO, pemerintah sebaiknya meninjau kembali aturan laik tidaknya pesawat terbang termasuk dari segi umur pesawat.
Teks foto :
– Satu diantara armada maskapai penerbangan Adam Air di Bandar Udara Internasional Juanda
Foto : TITIN suarasurabaya.net
NOW ON AIR SSFM 100

