Swasta merupakan partner PLN dalam membangun kelistrikan di Indonesia. Sebagian kemampuan pembangkitan listrik akan dibangun dan diberikan pada swasta, sesuai visi 75-100.
Demikian penegasan Ir EDDIE WIDIONO Dirut PT PLN (Persero) menyikapi tentang swastanisasi listrik yang dinilai bakal merugikan konsumen karena harga jual menjadi lebih mahal dibanding harga listrik yang ditawarkan PT PJB (Pembangkitan Jawa Bali).
Ditemui suarasurabaya.net, Kamis (01/11), di sela penyerahan mobil Home Care pada RSU Dr Soetomo di halaman kantor PLN Distribusi Jawa Timur, EDDIE menjelaskan tidak ada masalah kalau swasta memberikan kontribusi pada kelistrikan nasional.
Saat ini rata-rata tarif listrik swasta harga jualnya ke PLN berada pada tingkatan 4,5 hingga 4,6 sen dollar. Sedangkan harga jual PLN ke masyarakat rata-rata mencapai 7 sen dollar.
Sementara untuk membangun kelistrikan di Indonesia sampai tahun 2020, dibutuhkan anggaran US$ 5 milyar hingga US$ 6 milyar. Anggaran ini tidak mungkin ditanggung PLN sendiri tanpa melibatkan pihak swasta. Berikut penjelasan EDDIE, {clip*1}.
PT PJB, kata EDDIE, mendapatkan aset dari PLN. Dan waktu diserahkan ke PJB, Paiton dibangun dengan dana pinjaman pemerintah yang sifatnya lunak. Oleh karena itu tidak sepadan kalau harga jual listrik PJB dibandingkan Paiton Energy Company (PEC).
PEC dibangun dengan dana komersial. Suatu perusahaan sekali menanamkan modal di Indonesia dan menghasilkan keuntungan, akan terus berinvestasi.
Meski demikian, ungkap EDDIE, PLN menyadari adanya harapan PT PJB dapat meningkatkan kapasitas produksinya. Untuk itu, dalam proyek 10 ribu mega watt, ada Paiton baru berkapasitas 600 megawatt yang dibangun PT PLN. Nantinya akan diserahkan ke PT PJB untuk pengoperasian dan pemeliharaannya. (tin)
NOW ON AIR SSFM 100

