Jumat, 3 April 2020

Covid-19 Berdampak ke Ekonomi, Pemerintah Diminta Bantu MBR Cicil KPR

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Suasana di Terminal Joyoboyo Surabaya, Foto : Dok suarasurabaya.net

Joko Widodo (Jokowi) Presiden diharapkan segera mengeluarkan kebijakan untuk membantu para pekerja lepas harian, khususnya sektor transportasi massal yang terkena efek penerapan pembatasan sosial (social distancing) di tengah wabah virus corona (COVID-19).‎

Menurut Mukhamad Misbakhun anggota Komisi XI DPR RI fraksi partai Golkar, saat ini penghasilan para sopir taksi, pengemudi truk, serta driver pengemudi transportasi online ataupun angkutan umum jauh berkurang akibat masyarakat menerapkan pembatasan sosial.

“Sopir taksi, sopir ojek, sopir bus, sopir truk dan sopir angkutan yang berstatus pegawai harian lepas tanpa pemberi kerja sebaiknya tetap diberi uang makan,” kata Misbakhun di Jakarta, Minggu (22/3/2020).

Dia menambahkan, pemerintah bisa menggelontorkan bantuan langsung sebesar Rp125 ribu per pekan atau Rp500 ribu per bulan bagi pekerja harian lepas yang terkena imbas pembatasan sosial.

“Ini sebagai bantalan uang makan mereka,” kata dia.

Selain itu, Misbakhun juga mendorong Presiden segera mengeluarkan kebijakan khusus untuk memperkuat Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) yang harus mencicil kredit pemilikan rumah (KPR).

Misbakhun menjelaskan, pandemi COVID-19 telah berefek pada perekonomian banyak negara, termasuk Indonesia.

Menurut Misbakhun, pemerintah di berbagai negara lain sudah berupaya membantu rakyatnya yang menghadapi masalah ekonomi akibat coronavirus. Mantan PNS Direktorat Jenderal Pajak itu pun mendorong pemerintahan Jokowi membantu MBR yang memiliki kewajiban cicilan KPR melalui Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP).

Dia menjelaskan, pemerintah bisa membantu dengan menalangi masyarakat berpenghasilan rendah dalam mencicil KPR. Anggota DPR asal Pasuruan ini kemudian menyodorkan dua opsi pemberian talangan.

Pertama dengan menalangi sebagian dari cicilan KPR hingga tiga bulan. Opsi kedua adalah menalangi penuh cicilan KPR untuk satu bulan.

“Misalnya, cicilan KPR untuk masyarakat berpenghasilan rendah dengan nilai rumah di bawah Rp 400 juta, untuk tiga bulan dibayar 40 persen oleh negara, atau satu bulan penuh dibayar 100 persen oleh negara,” jelasnya.

Misbakhun meyakini kebijakan itu akan membuat masyarakat tetap memiliki bantalan sosial. Harapannya adalah konsumsi masyarakat juga tetap tumbuh.

“Jadi roda perekonomian di tingkat bawah terus bergerak,” tegasnya.

Sebelumnya Misbakhun juga sudah melontarkan sarannya agar Presiden Jokowi mengeluarkan kebijakan bantalan ekonomi untuk warga yang berprofesi sebagai buruh tani, buruh perkebunan dan nelayan. Usulannya juga memberikan pengganti uang makan sebesar Rp125 ribu per pekan atau Rp500 ribu per bulan.

Misbakhun juga mengusulkan agar Jokowi melakukan realokasi 70-80 persen Dana Desa serta Dana Kelurahan untuk membiayai bank pangan di desa dan kelurahan. Dengan dana itu, hasil pangan desa yang belum laku dibeli untuk dijadikan bank pangan yang digunakan juga oleh desa ketika karantina sosial belum selesai.

Misbakhun mengatakan hal ini sekaligus menjadi solusi bagi pedagang makanan rumahan yang penjualannya terganggu akibat Covid-19. Dana Desa atau Dana Kelurahan yang direalokasi dimanfaatkan untuk membeli produk pangan dari pedagang kecil itu untuk kemudian menjadi bank pangan.(faz/tin)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Trailler Tabrak Pembatas Jalan di Tol

Mobil Terbakar di Karah Indah 1

Penyemprotan Disinfektan di A.Yani

Surabaya
Jumat, 3 April 2020
26o
Kurs