Minggu, 29 Maret 2020

Jatim Surplus Jagung 1,6 Juta Ton

Laporan oleh Denza Perdana
Bagikan
Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim saat menghadiri panen raya bersama Masyarakat Samin di Lahan Perhutani Petak Lima Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ngawi di Bojonegoro. Foto : Humas Pemprov Jatim

Pemprov Jatim mengklaim pada periode pertama 2020, atau selama Januari sampai April mendatang, panen jagung di seluruh Jatim akan surplus lebih dari 1,6 juta ton yang akan menjadi persediaan.

Produksi jagung pada periode ini diprediksi mencapai 2.465.390 ton. Sementara potensi konsumsi untuk pangan, pakan, dan industri dari hasil panen jagung itu sebesar 840.908 ton pipilan kering jagung.

Dengan demikian ada potensi surplus hasil produksi jagung di Jatim yang jumlahnya mencapai 1.624.482 ton berupa pipilan kering. Pada 2019 lalu, panen jagung di Jatim juga surplus 4.384.009 ton.

Khofifah Indar Parawansa Gubernur Jatim mendorong produktivitas jagung sebagai salah satu produk andalan terus meningkat. Sebab Jatim adalah kontributor signifikan untuk kebutuhan jagung nasional.

“Jagung merupakan salah satu komoditas andalan Jatim yang juga menjadi kontributor untuk ketersediaan jagung secara nasional, maka kita terus mendorong produktivitas tanaman jagung kita,” ujarnya.

Produktivitas jagung ini juga menentukan sektor usaha rakyat yang lain. Khofifah menyatakan bahwa 50 persen komponen utama pakan ternak ayam yang dikelola masyarakat di Jawa Timur adalah jagung.

Khofifah menyatakan ini saat menghadiri panen raya bersama Masyarakat Samin di Lahan Perhutani Petak Lima Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Ngawi di Bojonegoro.

Khofifah mengatakan, jenis jagung yang dipanen pada panen raya kali ini adalah jenis hibrida yang memang memiliki tingkat produktifitas tinggi. Jagung di lahan itu tumpang sari dengan tanaman Kayu Putih.

Adapun jagung yang ditanam merupakan varietas jagung hibrida NK (75 persen) dan varietas jagung hibrida Pioner (25 persen). Adapun harga jagung berupa pipilan kering di lokasi itu Rp3.800 per kilogram dan bila berupa gelondong Rp2.000 per kilogram.

“Kebutuhan pasar untuk jagung kita di dalam negeri cukup besar, kebutuhan pasar di Provinsi Jawa Timur juga cukup besar, dan hari ini sebetulnya pasar ekspornya juga sudah mulai terbuka,” tuturnya.

Khofifah secara khusus mengapresiasi Perhutani yang bekerja sama dengan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) serta Kelompok Tani Hutan (KTH) dalam meningkatkan produtivitas jagung.

Menurutnya, dengan adanya kerja sama antara pihak-pihak tersebut suplai jagung ataupun komoditas lainnya akan meningkat tanpa mengganggu ekosistem di hutan lindung.

“Artinya kerjasama di antara elemen-elemen LMDH, KTH juga berbagai kelompok masyarakat tani hutan dengan Perhutani menjadi penting untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tani hutan di pelosok daerah dengan tanpa mengganggu dari hutan lindung itu sendiri,” katanya.

Ke depan, Khofifah berharap kerja sama melibatkan LMDH, KTH di berbagai daerah bisa terus dikembangkan. Karena kegiatan itu bisa mendorong potensi ekspor. Seperti yang dilakukan Perhutani menggandeng LMDH di Nganjuk untuk menanam porang.

“Porang itu hanya bisa tumbuh di bawah tegakan-tegakan di hutan, sehingga memang harus di tengah hutan dan ini pasar ekspornya luar biasa, hampir seratus persen produksi porang kita ekspor, pasar untuk Jepang luar biasa, pasar untuk Tiongkok juga luar biasa,” katanya.

Kerja sama berbagai elemen seperti itu menurutnya akan menjadi sesuatu yang strategis untuk menurunkan kemiskinan masyarakat di sekitar hutan tanpa mengganggu daya dukung alam.(den/iss)

Berita Terkait
Potret NetterSelengkapnya

Penyemprotan Disinfektan di A.Yani

Truk Terguling di Karang Pilang

Biasanya Berjubel, Kini Sunyi

Social Distancing, Ciputra World Sepi

Surabaya
Minggu, 29 Maret 2020
26o
Kurs