Rabu, 6 Juli 2022

Kadin Dorong Pertumbuhan Industri Perfilman Jatim

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Adik Dwi Putranto Ketua Kadin Jatim. Foto: Istimewa

Adik Dwi Putranto Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jatim mengatakan, industri perfilman Tanah Air sejauh ini terkesan stagnan dan tidak berkembang. Padahal dengan besarnya jumlah penduduk yang mencapai sekitar 268 juta, Indonesia bisa dipastikan menjadi pasar yang cukup besar dan potensial, termasuk Jawa Timur.

“Kami berupaya mendorong, merangkai seluruh potensi yang dimiliki industri perfilman Jatim untuk bersama-sama bergerak dan berkarya agar kinerja industri ini bisa maju,” ujarnya melalui keterangan tertulis, Senin (9/11/2020).

Menurut Adik, selain menjadi pasar terbesar ke dua setelah Jakarta, Jatim memiliki sejumah potensi yang bisa dikembangkan. Di antaranya adalah banyaknya sineas yang berasal dari Jatim dan banyaknya jumlah gedung bioskop yang dimiliki.

Sinarto Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jatim, mengatakan, salah satu penyebab industri perfilman di Jatim mengalami stagnasi  karena secara hukum, Provinsi sudah tidak lagi memiliki kewenangan dalam pengembangan industri ini pasca terbitnya Undang-Undang Nomor 23/2014. Selain itu, Permendagri nomor 90/2019 juga menyebutkan bahwa provinsi tidak memiliki kewenangan lagi.

“Untuk itu kami berupaya mencari cela dengan memasukkan industri perfilman ini ke sektor ekonomi  kreatif agar provinsi bisa ikut berkiprah.  Sebenarnya Komisi B DPRD Jatim telah membuat Perda terkait industri perfilman ini. Tetapi setelah itu tidak bisa dijalankan karena provinsi tidak memiliki kewenangan,” ujar Sinarto.

Agar industri film bisa bertumbuh, Disbudpar Jatim juga telah memberikan arahan kepada pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Teknologi  dan Kepariwisataan di Singosari untuk menfasilitasi pengembangan generasi muda Jatim  yang ingin mengembangkan bakatnya di sektor perfilman. Selain itu, Dispbudpar Jatim juga berencana membuat Festival Perfilman Jatim di tahun 2021 mendatang.

Wulansary Presidium Surabaya Film Asociate, mengaku, sejauh ini para sineas di Jatim telah bersepakat untuk menjalin kerja sama untuk melakukan pemetaan potensi yang dimiliki. Karena sebelumnya, mereka tercecer dan tidak mengenal satu dengan yang lain. Mereka kebanyakan berkarya di Jakarta tanpa membawa nama daerah.

“Dua tahun belakangan, kami lakukan pemetaan di Surabaya, kota yang punya layar bioskop terbesar kedua di Indonesia. Bahwa teman perfilman di Jatim khususnya Surabaya ini sudah luar biasa sepakterjangnya, hanya saja mereka tidak saling kenal dan ini jadi kekonyolan. Kalau ada yang terbang duluan, mereka tebang sebagai person tidak mengangkat daerah. Ini kita lagi kumpulkan,” pungkasnya.(iss/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
24o
Kurs