Sabtu, 23 Oktober 2021
OPOP Jawa Timur

Pesantren Miftahul Ulum Ngawi, Bahan Baku Berlimpah Unggulkan Keripik Tempe

Laporan oleh Achmad Zainal Alim
Bagikan
Proses produksi Keripik Tempe yang ditekuni para santri di Pesantren Miftahul Ulum Ngawi. Foto: Istimewa

Semua paham, Kripik Tempe adalah camilan khas daerah Ngawi, Jawa Timur. Ini lebih karena didukung bahan tempe yang mudah ditemukan hampir di banyak tempat. Berdasar keunggulan itu pula, Pondok Pesantren Miftahul Ulum, Ngawi, memilih mengembangkan produksi Kripik Tempe.

Siti Anisa, pengurus Pesantren Miftahul Ulum menyampaikan, “Di sini sementara unggulannya baru Keripik Tempe, dibuatnya juga belum lama, baru setelah Lebaran tahun 2020 ini,” ungkapnya.

Menurut Anisa, sejauh ini untuk produksi, seperti bahan Kacang Kedele, sangat mudah di dapatkan. Untuk pemasaran sementara ini, juga cukup mudah. “Pembuatan Keripik Tempe ini sangat sederhana, simple, tidak banyak makan waktu dan tenaga,” jelasnya.

Siti Anisa, pengurus Pesantren Miftahul Ulum, Ngawi. Foto: Istimewa

Usaha ini bukan tanpa tantangan, ada beberapa keterbatasan di Pesantren Miftahul Ulum. Namun demikian tidak menjadi halangan untuk terus konsisten, memproduksi Keripik Tempe dengan kulitas yang terus meningkat.

“Sementara ini pemasaran masih lokal di sekitar pondok, karena dari alat penunjang produksi juga masih terbatas. Pembuatan Keripik Tempe biasanya hanya 1 kilogram, lalu 2 minggu bisa habis kemudian membuat lagi,” urainya.

Menyelami pengalaman produksi Keripik Tempe di Pesantren Miftahul Ulum. Berbincang tentang proses produksi, bersama Putri, satu santri yang sedang melakukan aktivitas menggoreng keripik.

Ketika ditanya apa kesulitannya, “Kesulitan biasanya dalam mengiris tempe, harus sabar,” ungkapnya. Tempe yang sudah diproses menjadi keripik kemudian akan dikemas dalam plastik dengan 2 varian harga Rp.2500 dan Rp.1000.

Menurut Anisa, pemasaran Keripik Tempe kini semakin luas. Dengan adanya program OPOP Jatim, yang juga di dukung Dinas Komunikasi dan Informasi Pemprov. Jatim ini, diharapkan usaha ini bisa berkembang lebih pesat.

Bila sementara ini packaging masih dilakukan manual, “Dimasukkan plastik kemudian diberi stiker label sendiri. Berharap ke depan sudah bisa lebih maju lagi, seperti dengan kemasan plastik berlabel khusus. Kemudian langsung dikirim ke toko-toko atau pasar-pasar, dengan kemasan yang lebih bagus,” pungkas Anisa.(lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Muat BBM Terbakar di Tol Pandaan

Truk Terguling di Lawang Malang

Truk Terguling Menimpa Taksi di Medaeng

Surabaya
Sabtu, 23 Oktober 2021
30o
Kurs