Senin, 27 September 2021

Pengamat Ingatkan Gaya Hidup Minimalis, Hanya Belanja yang Dibutuhkan

Laporan oleh Agustina Suminar
Bagikan
Ilustrasi belanja online. Foto: Shutterstock

Beberapa waktu yang lalu, Joko Widodo Presiden mewajibkan semua perusahaan swasta membayarkan THR secara penuh pada Lebaran tahun ini. Pembayaran THR diharapkan akan mendorong pertumbuhan ekonomi dan mampu menggerakkan konsumsi masyarakat. Namun di masa pandemi, ekspresi belanja masyarakat menjadi sorotan karena berpotensi memunculkan kerumunan dan menaikkan angka kasus Covid-19.

Dr. Rumayya Batubara Peneliti Pusat Kajian Sosio-Ekonomi Indonesia FEB Unair mencermati, selain ekspresi belanja yang mulai dialihkan ke belanja online, ia juga mengingatkan masyarakat tentang gaya hidup minimalis. Gerakan gaya hidup minimalis ini mengajak masyarakat untuk membangun kesadaran belanja, agar hanya membeli barang yang dibutuhkan.

“Mencoba hidup lebih simple, sederhana, membeli tapi dengan kesadaran. Apakah kita benar-benar butuh barang ini? Butuhnya untuk berapa lama? Jadi lebih bijak dalam melakukan pembelian,” kata Rumayya kepada Radio Suara Surabaya, Senin (3/5/2021).

Ia menyadari, pandemi yang menghantam perekomian pada lebaran tahun lalu, akhirnya secara psikologis memunculkan keinginan masyarakat untuk “balas dendam” untuk berbelanja. Menurutnya hasrat untuk membeli baju/barang setahun sekali saat lebaran dan keinginan untuk menyenangkan keluarga adalah kondisi yang bisa dipahami.

Hanya saja, ekspresi belanja itulah yang harus diubah. Rumayya mencontohkan, yang awalnya belanja konvensional dengan datang langsung ke toko, di masa pandemi menjadi membeli secara daring. Serta dengan membangun semangat gaya hidup minimalis, yang awalnya asal membeli karena punya uang, menjadi kesadaran apakah barang yang akan dibeli sudah sesuai dengan kebutuhan.

Rumayya menambahkan, gerakan gaya hidup minimalis ini sudah berkembang di berbagai negara maju jauh sebelum pandemi Covid-19 datang. Saat ini, gerakan itu pun juga sudah menyebar di berbagai kota besar seperti Jakarta dan Bandung.

“Saya kira di Jawa Barat, Jakarta, gaya hidup ini sudah mulai muncul. Apalagi sekarang momennya pas. Gerakan ini ada sebelum Covid, tapi sejak pandemi ide ini berpotensi untuk berkembang,” paparnya.

Untuk membangun gaya hidup minimalis, Rumayya mengatakan, kesadaran berbelanja harus mulai dibangun pada level konsumen. Ini dikarenakan konsumen lah yang menentukan pasar serta produk dan jasa yang mereka butuhkan.

“Kalau orang jualan macam-macam tapi kalau tidak ada yang beli, kan nggak laku. Makanya dari level konsumen harus ditumbuhkan kesadaran itu. Kita perlu meredefinisikan kebutuhan akan barang,” kata Rumayya.

Sebelumnya pada Sabtu (2/5/2021) dan Minggu (3/5/2021) kemarin, sosial media sempat diramaikan dengan situasi di berbagai mal dan pusat perbelanjaan yang padat. Lonjakan pengunjung tidak hanya terjadi di kota besar di Pasar Tanah Abang, Jakarta, namun juga di berbagai daerah lain termasuk Surabaya dan Sidoarjo.

Sejumlah pengakses Radio Suara Surabaya menyampaikan pantauan mereka ketika mengunjungi mal di Surabaya dan Sidoarjo. Seperti Yoyok Kris yang membagikan foto via WhatsApp Suara Surabaya yang menunjukkan situasi pengunjung di Foodcourt Royal Plaza Surabaya. Ia pun mengingatkan, seharusnya ada pembatasan pengunjung.

Sebelumnya, Roy Raharjo salah satu pengakses Suara Surabaya Media juga melaporkan situasi Lotte Mart Waru yang cukup banyak antrean di kasir maupun di tempat-tempat display pakaian di waktu yang hampir bersamaan.

“Menjelang hari raya banyak pembeli utk keperluan Lebaran. Tetap antrean di kasir panjang dan tidak menjalankan protokol kesehatan dengan menjaga jarak,” ujarnya via aplikasi Suara Surabaya Media, Minggu (2/5/2021) petang.(tin)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Evakuasi Mobil Terperosok di depan RSAL dr Ramelan A.Yani

Antre Vaksin di T2 Juanda

Kebakaran Lahan Kosong Darmo Permai

Surabaya
Senin, 27 September 2021
34o
Kurs