Senin, 1 Maret 2021
OPOP Jawa Timur

Pesantren Al Munawariyah Malang Eksis dengan Produk Konveksi

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Santri sedang mengerjakan produk pesanan. Foto: Dok. Suarasurabaya.net

Meski semua santri dilatih wirausaha, tapi belum semua pesantren memiliki struktur yang khusus menangani wirausahanya. Karena itu, Pemerintgah Provinsi Jawa Timur lewat program One Pesantren One Product (OPOP) menggerakkan potensi wirausaha pesantren, termasuk di Pesantren Al Munawariyah, Bululawang, Malang.

Ustadz Khotibul Umam Kepala Sekolah Menengah Kejuruan dan Ketua Koperasi Al Munawariyah mengatakan, program OPOP linier dengan program wirausaha di pesantrennya. Bahkan wirausaha berupa usaha konveksi sudah jadi salah satu wirausaha unggulan yang menjanjikan.

“Bagaimana caranya santri ini betul-betul berkarya khususnya di bidang konveksi dan cara kerjanya terstruktur. Mulai dari penyediaan alat, tenaga pelatih, sampai dengan santri-santri yang kita persiapkan jadi tenaga ahlinya itu semua kita tata sejak awal. Sekarang alhamdulillah kita sudah bisa menangani sebagian baju seragam di pesantren Al Munawariyah ini,” kata Khotibul Umam kepada Suara Surabaya.

Ustadz Khotibul Umam Kepala Sekolah Menengah Kejuruan dan Ketua Koperasi Al Munawariyah. Foto: Istimewa

Semangat kewirausahaan di Pesantren Al Munawariyah, kata Ustadz Khotib, punya ada beberapa tujuan.

“Tujuan yang ingin kami capai, pertama memberikan bekal entrepreneur kepada santri. Artinya anak-anak itu tidak semata-mata menguasai alquran karena di sini pondok pesantren yang orientasinya tahfidz, menghafalkan alquran. Biar nanti anak-anak itu keluarnya tidak terbatas dari desa ke desa, petani ke petani. Jadi kami banyak memberikan tawaran terutama di dunia fesyen untuk anak perempuan dan dunia IT untuk anak laki-laki. Sehingga nanti kalau dia keluar bisa berwirausaha mandiri. Kedua, untuk pondok pesantren sendiri, saya ingin membuktikan bahwa pondok pesantren tidak selalu identik dengan lembaga keagaaman yang kotor, tidak terstruktur, yang mayoritas penilaiannya masih jelek. Saya ingin membuktikan pondok pesantren lebih baik, tinggal bagaimana kita memanajemen saja,” ujarnya.

Dengan jumlah santri putra putri sekitar 2.500 anak sudah jadi market tersendiri untuk usaha konveksi ini. Meski begitu, pertimbangan harga khusus santri jadi pertimbangan tersendiri.

“Untuk produk, kalau di pasaran harga satu baju seratus ribu, kita bisa menjual dengan harga di bawah itu. Mimpi besar usaha konveksi Al Munawariyah adalah anak-anak bisa mendesain busana yang islami, tren, dan dibutuhkan masyarakat Indonesia,” kata Ustadz Khotibul.

Sementara Ustadzah Dian Wahyu, pengajar dan pelatih di usaha konveksi Al Munawariyah mengatakan, puncak kesibukan konveksi Al Munawariyah terjadi setiap tahun ajaran baru.

“Banyak pesanan dari luar, sekolah-sekolah. Jadi kalau ajaran baru banyak pesanan seragam,” kata Ustadzah Dian.

Dengan jumlah santri kurang lebih 2.500 anak dan kadang juga menerima pesanan dari luar, sudah terbayang berapa omzet perbulan yang dihasilkan konveksi Pesantren Al Munawariyah.(iss/lim)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Berlubang dan Berkubang

Kebakaran Rumah di Wonosari Surabaya

Truk Tabrak Warung di Sidoarjo

Truk Terguling di Prigen

Surabaya
Senin, 1 Maret 2021
27o
Kurs