Jumat, 1 Maret 2024

Badan Pangan Nasional Sebut Harga Telur Sedang Cari Keseimbangan

Laporan oleh Billy Patoppoi
Bagikan
Harga telur ayam terus meroket. Foto: Istimewa

Badan Pangan Nasional menyebut bahwa kenaikan harga telur saat ini terjadi karena sedang mencari keseimbangan (ekuilibrium) akibat kenaikan pada beberapa variabel biaya.

“Contohnya pakan, karena beberapa ada yang masih impor sehingga ketika terjadi gejolak mata uang, harga ikut naik,” kata Arief Prasetyo Adi, Kepala Badan Pangan Nasional, seperti yang dikutip Antara, Minggu (28/8/2022).

Arief, panggilan akrabnya menuturkan, banyak variabel yang membuat harga telur mengalami kenaikan, salah satunya yang juga memberi kontribusi besar, adalah biaya transportasi, apalagi telur bukan komoditi yang tahan lama.

Ia menambahkan bahwa, harga telur tidak mungkin kembali ke harga Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram, karena bakal mematikan peternak.”Kalau harga menjadi Rp19.000 hingga Rp20.000 per kilogram, peternak pasti kolaps dan mereka bakal kapok menjadi peternak,” ujar Arief.

Arief mengingatkan ketika harga telur jatuh empat bulan menjelang lebaran, dimana semua peternak lantas memotong ayam petelur untuk menutup kerugian.

“Namun apa yang terjadi setelah harga kembali normal. Pengadaan ayam petelur itu tidaklah mudah. Butuh waktu lima hingga enam bulan agar ayam bisa bertelur kembali,” ujar Arief.

Menurutnya, harus dilakukan koordinasi dengan lintas lembaga dan kementerian agar produksi dan konsumsi dapat sejalan.

Sebagai tindak lanjut, Arief mengatakan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Sosial untuk memetakan daerah-daerah rawan kemiskinan agar bisa dipasok telur ayam.

“Tidak hanya telur ayam, tetapi sembilan bahan pangan lainnya akan kita siapkan sebagai upaya tercapainya keseimbangan antara konsumsi dan produksi,” ucap Arief.

Pasokan juga diatur jangan sekaligus dalam satu waktu, namun dibuat berkelanjutan dengan menyasar daerah-daerah yang membutuhkan.Arief mengungkapkan, bahwa pihaknya telah bermitra dengan pengusaha yang tergabung dalam Kadin Indonesia untuk menjamin keberlangsungan pengiriman komoditi pangan ke sejumlah daerah.

Presiden Joko Widodo juga telah menginstruksikan agar faktor pendorong inflasi termasuk pangan tidak boleh melebihi angka pertumbuhan ekonomi 4,9 persen.

“Ini tentunya menjadi pekerjaan rumah kita bersama, mengingat kontribusi pangan terhadap inflasi cukup tinggi dibanding sektor lainnya,” tutur Arief.

Ia berharap, dengan menggandeng pengusaha yang tergabung di dalam Kadin Indonesia, diharap petani/ peternak tetap untung, pedagang sejahtera, dan terpenting konsumen juga nyaman.

Sementara itu, terkait kerja sama dengan Badan Pangan Nasional, Diana Dewi Ketua Kadin DKI Jakarta menyatakan siap untuk menjalin kemitraan.

“Salah satunya melalui kegiatan Jakarta Festival, dengan memfasilitasi UMKM di bidang kuliner dalam rangka mendukung program Badan Pangan Nasional,” kata Diana Dewi.

Diana Dewi juga membenarkan adanya kenaikan beberapa bahan pangan seperti telur, yang lebih disebabkan adanya anomali cuaca sehingga membutuhkan peran serta pemerintah dan swasta untuk melakukan normalisasi.

Ia juga memastikan bahwa pihaknya akan mendukung sepenuhnya keinginan Badan Pangan Nasional, agar bisa menjadi jembatan dalam upaya mencari keseimbangan antara produksi dengan konsumsi. (ant/des/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Pagi-Pagi Terjebak Macet di Simpang PBI

Kecelakaan Truk Box dan Motor di Sukorejo Pasuruan

Tetap Nyoblos Meski TPSnya Banjir

Surabaya
Jumat, 1 Maret 2024
27o
Kurs