Rabu, 10 Agustus 2022

Pengamat: Pemerintah Harus Siapkan Strategi Menahan Kenaikan Inflasi

Laporan oleh Wildan Pratama
Bagikan
Beberapa bahan pokok mulai melonjak salah satunya Cabe Rawit yang tembus hingga Rp70 ribu perkilo. Foto : dokumen suarasurabaya.net

Agus Herta Sumarto pengamat ekonomi Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan bahwa tingginya inflasi pada Juni 2022 membuat pemerintah harus segera menyiapkan strategi untuk menahan kenaikan inflasi hingga akhir tahun.

Salah satu exit strategy tersebut adalah mewaspadai pergerakan harga-harga komoditas global seperti gandum dan minyak bumi yang terdampak oleh kondisi geopolitik di Eropa.

“Efeknya aksidental dan tentunya solusinya juga aksidental jangka pendek, hanya meredam gejolak harga temporal tersebut. Contohnya seperti kenaikan harga komoditas global saat ini,” kata Agus di Jakarta, Senin (4/7/2022) melansir Antara.

Kedua, pemerintah juga harus memikirkan dan membuat roadmap ketahanan pangan, terutama bahan makanan yang selama ini sering kali menjadi penyebab utama inflasi di Indonesia.

“Masalah kedelai, jagung, cabai rawit, bawang merah, bawah putih, telur ayam, daging ayam, merupakan contoh dari masalah rutin dan selalu berulang karena kekacauan manajemen dari sektor hulu sampai hilir,” ucap Agus.

Ketiga, melakukan perbaikan komprehensif lintas sektoral dari sektor hulu yang berada di Kementerian Pertanian, sampai sektor hilir yang berada di Kementerian Perdagangan dan Kementerian Perindustrian.

Kata Agus, perbaikan sektoral itu tidak bisa dilakukan secara instan dan memerlukan waktu yang cukup lama. Menurutnya perubahan tersebut harus diiringi dengan political will dari pemerintah.

Ia mengatakan tingginya inflasi tersebut bisa memberikan ketidakpastian dan mengganggu potensi pertumbuhan, sehingga pemerintah harus meningkatkan kewaspadaan dari kemungkinan kenaikan inflasi hingga akhir 2022.

“Saat ini menurut saya tantangan terbesar yang dihadapi perekonomian Indonesia adalah potensi terjadinya stagflasi yaitu kenaikan inflasi di tengah kondisi pertumbuhan ekonomi yang stagnan atau bahkan kontraksi,” tutup Agus.

Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan sebesar 4,35 persen (yoy) pada Juni 2022 atau sedikit lebih tinggi dari proyeksi empat persen plus minus satu persen. Realisasi ini merupakan yang tertinggi sejak Juni 2017.(ant/wld/rst)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Suatu Sore di Sembayat Gresik

Sore yang Macet di Raya Nginden

Peserta Pawai Taaruf YPM Sidoarjo di Sepanjang

Kecelakaan Truk Terguling di KM 750 Tol Waru

Surabaya
Rabu, 10 Agustus 2022
25o
Kurs