Sabtu, 4 Februari 2023

Presidensi G20 Akan Membahas Empat Topik Penting

Laporan oleh Muchlis Fadjarudin
Bagikan
Suahasil Nazara Wakil Menteri Keuangan. Foto: Kemenkeu

Suahasil Nazara Wakil Menteri Keuangan (Wamenkeu) menyoroti beberapa topik penting yang didiskusikan dalam Presidensi G20 Indonesia, yakni agenda kesehatan, transformasi ekonomi digital, perpajakan internasional, dan transisi energi.

Wamenkeu menilai hubungan antara keuangan dan kesehatan sangat penting dan berkaitan. Seluruh negara di dunia harus bersama-sama bangkit dan pulih dari pandemi Covid-19, termasuk di Indonesia. Upaya untuk pulih dari pandemi di bidang kesehatan satu di antaranya dilakukan melalui penyediaan vaksin, baik melalui impor maupun produksi dalam negeri.

“Kami melakukan yang terbaik untuk memastikan ketersediaan vaksin di seluruh Indonesia dan tidak semudah itu untuk melakukan vaksinasi. Target kami sangat besar, sekitar 120 juta orang untuk divaksinasi dari 270 juta lainnya. Itu tahun lalu. Saat ini, kami senang bahwa 90 persen penduduk Indonesia yang memenuhi syarat telah divaksinasi,” ujar Wamenkeu dalam keterangannya, Selasa (29/3/2022).

Di sisi lain, kata dia, transformasi ekonomi digital juga sangat penting dilakukan dan akan menjadi agenda yang ditekankan pada Presidensi G20 Indonesia. Sementara, terkait perpajakan internasional, base erosion and profit shifting menjadi inisiatif yang efektif untuk mengatur ulang aturan pajak internasional agar sesuai dengan kondisi ekonomi global.

“Inisiatif base erosion profit-shifting adalah konsensus yang dibuat berdasarkan instruksi pertemuan G20. Kami percaya bahwa G20 harus berlanjut sebagai platform untuk membangun konsensus di antara negara-negara berdaulat. Oleh karena itu, Indonesia akan terus mendukung inisiatif perpajakan internasional,” ujar Wamenkeu.

Terkait transisi energi, menurut Suahasil, agenda ini akan dicapai melalui transisi menuju ekonomi hijau yang adil dan terjangkau, meningkatkan keterjangkauan instrumen keuangan berkelanjutan, dan meningkatkan investasi untuk transisi.

“Transisi energi mulai masuk ke dalam impian, tujuan, dan sasaran kita. Ini adalah masa depan kita, namun tidak akan mudah,” kata Wamenkeu.

Indonesia sebagai negara berkembang saat ini berada di dalam kondisi surplus listrik. Namun, hal tersebut tidak menghentikan Indonesia untuk melakukan transisi energi.

“Dalam jangka menengah dan panjang, kita memikirkan bagaimana dapat mengganti pembangkit listrik tenaga batubara dengan energi terbarukan. Ini akan sulit, tetapi saya percaya bahwa komunitas internasional harus menyadari tantangan yang kita hadapi dan bersama-sama kita dapat mendiskusikan tentang bagaimana cara terbaik untuk memastikan hal itu dapat terjadi dalam dekade berikutnya,” jelas Suahasil.(faz/iss)

Berita Terkait