Selasa, 5 Juli 2022

Sempat Terdampak Pandemi, Dua UMKM Berhasil Tembus Pasar Nasional-Internasional

Laporan oleh Restu Indah
Bagikan
Emping Garut Raflesia Foto: Istimewa

Pandemi Covid-19 hampir menjadi penyebab kegagalan banyak pengusaha. Termasuk para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Namun, kendala ini tidak menghalangi dua UMKM asal Jawa Timur yang berhasil sukses menembus pasar nasional dan internasional.

Keberhasilan itu tidak lepas dari dukungan program Millenial Jobs Center (MJC) oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Program yang mewadahi kreativitas kaum millennial, tempat bertemunya ide dan gagasan anak-anak muda di Jawa Timur. MJC membantu dan mendukung UKM potensial dari daerah yang jauh dari pusat kota untuk lebih dikenal menjadi produk unggulan di masyarakat.

Usaha yang semula dirintis dengan modal kecil dan kemampuan otodidak, bahkan melewati beberapa kali percobaan gagal, kini menghasilkan omset berlimpah. Itulah keripik pisang “Gedangkoe” yang dirintis oleh Diah Retno Purwanti sejak 2019. Ibu dari empat anak ini awalnya hanya ingin membuat produk olahan pisang yang berbeda dan disukai semua kalangan. Bermodalkan uang Rp500 ribu.

Hanya dibantu oleh empat orang tenaga khusus untuk mengolah keripik pisang, serta para santri, Diah ingin berbagi ilmu pengelolaan usaha dan produksi yang tidak diajarkan di pondok pesantren. Hingga akhirnya kendala muncul ketika masa pandemi.

Omsetnya yang perlahan mulai terlihat menghasilkan yaitu 2 juta rupiah tiap bulan, turun drastis menjadi Rp500 ribu per bulannya. Tetapi ia tidak ingin menyerah begitu saja. Berbagai pelatihan dalam program Millenial Jobs Center (MJC) melalui Dinas Koperasi dan UKM Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan OPOP (One Pesantren One Product) Probolinggo diikuti.

“Semua demi membantu melancarkan perekonomian khusus di lingkup pesantren,” ungkap Diah.

Meski kini masih terkendala akses permodalan dan peralatan produksi keripik pisang yang menggunakan cara manual, Gedangkoe mampu bertahan dan bisa dibilang sukses mengikuti berbagai event hingga berhasil menembus pasar nasional.

Sebagai UMKM yang memulai usahanya dari bawah, Emping Garut Raflesia milik Ana Nurhayati juga awalnya hanya dipasarkan melalui warung ke warung. Bahkan seringkali ditolak.

“Itupun banyak yang nolak, mereka bilang makanan sapi kok dijual,” kata Ana.

Namun ternyata, kesulitan itu mendorong Ana untuk semangat mengikuti pelatihan dalam program MJC melalui EJSC (East JavaSuper Coridor) Bojonegoro. Hingga akhirnya, produk yang bahan utamanya adalah garut atau gerut, sejenis umbi-umbian yang mengandung nutrisi tinggi ini, sukses menembus pasar internasional.

Ana memulai produksi Emping Garut Raflesia sejak 2010 dengan modal awal Rp2 juta dan mampu memproduksi hinggal 5 kwintal per bulan. Namun pandemi membuat Ana yang sebelumnya mampu meraih omset mencapai Rp15 juta per bulan, turun hampir 75%. Yaitu kemampuan produksi hanya 1 sampai 2 kwintal per bulan dengan omset Rp5 juta per bulan.

Kondisi itu tidak membuat Emping Garut Raflesia menghentikan porduksinya, tetapi terus bangkit hingga mendapat permintaan produk mentah untuk ekspor pelanggan dari luar negeri seperti Singapura, Malaysia, Jepang. (lta/ipg)

Berita Terkait

Surabaya
Selasa, 5 Juli 2022
27o
Kurs