“Kenapa? Karena wait and see adanya suatu tensi geopolitik yang tidak menentu. Nah, itu sebenarnya bukan kesulitan likuiditas perbankan,” ujarnya.
Wasiaturrahma juga menyoroti kebijakan dana itu yang kemudian kembali dimasukkan. Menurutnya, perubahan kebijakan tersebut menunjukkan adanya persoalan dalam arah kebijakan fiskal yang dijalankan.
“Jadi kayak kebingungan gitu loh. Jadi arahnya itu banyak memang kegagalan-kegagalan yang memang disorot oleh publik. Itu mungkin akhirnya menjadi pertimbangan,” katanya.
Selain persoalan kebijakan, Wasiaturrahma sebelumnya juga menyinggung dinamika internal di Kementerian Keuangan. Menurut dia, pergantian pejabat strategis seperti Menteri Keuangan dapat memengaruhi arah dan eksekusi kebijakan fiskal.
Ia menyebut perombakan sejumlah pejabat eselon I pada masa Purbaya, termasuk Luky Alfirman Direktur Jenderal Anggaran dan Febrio Kacaribu Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal, turut memperlihatkan adanya friksi internal.

NOW ON AIR SSFM 100

