Pelemahan nilai tukar rupiah hingga Rp18.167 per dolar AS juga menambah kekhawatiran investor terhadap stabilitas pasar keuangan domestik.
Kondisi tersebut berlangsung bersamaan dengan kenaikan harga minyak mentah Brent yang mencapai 112 dolar AS per barel.
Harga minyak yang tinggi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi dan beban impor energi Indonesia. Di sisi lain, imbal hasil atau yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun naik ke level 7,52 persen, sehingga investor turut mempertimbangkan kembali risiko dan daya tarik aset keuangan domestik.
Tekanan pasar juga berasal dari arus keluar modal asing atau foreign capital outflow. Menurut Elandry, kondisi tersebut terjadi di tengah ketidakpastian global, termasuk arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve atau The Fed.
Pelaku pasar menantikan hasil pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/10) waktu Indonesia. Pasar memperkirakan bank sentral AS mempertahankan suku bunga acuannya.
NOW ON AIR SSFM 100

