Rabu, 22 April 2026

IHSG Berpotensi Variatif, Pasar Masih Wait and See terhadap Suku Bunga BI

Laporan oleh Iping Supingah
Bagikan
Ilustrasi saham di Bursa Efek Indonesia. Foto Antara

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) berpotensi menunjukkan pergerakan variatif sementara pasar bersikap wait and see terhadap arah kebijakan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Pada Rabu (22/4/2026) pagi, IHSG dibuka melemah 31,04 poin atau 0,41 persen ke posisi 7.528,34. Sedangkan, kelompok 45 saham unggulan atau Indeks LQ45 turun 7.66 poin atau 1,03 persen ke posisi 736,01.

“Berdasarkan analisa teknikal, kami melihat IHSG berpotensi melemah terbatas dengan support dan resistance 7.500-7.850,” ucap Maximilianus Nico Demus Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas.

Melansir Antara, pelaku pasar dalam negeri menunggu hasil pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI pada siang ini dengan perkiraan level BI-Rate masih bertahan di 4,75 persen.

Selain itu, data pertumbuhan kredit bulan Maret 2026 juga turut dipantau meski ada prediksi perlambatan menjadi 7,5 dari sebelumnya 9,37 persen pada Februari 2026.

MSCI mengatakan, reformasi pasar modal Indonesia yang termasuk pengungkapan pemegang saham di atas 1 persen, klasifikasi investor lebih rinci, kerangka HSC, serta roadmap kenaikan minimum free float, masih dalam tahap evaluasi.

Selama tahap evaluasi, MSCI membekukan rebalancing indeks untuk saham Indonesia pada periode Mei 2026. Keputusan selanjutnya akan diumumkan dalam Market Accessibility Review Juni 2026.

“Di sisi lain, langkah MSCI juga bisa dilihat sebagai positive medium-term signal, karena jika reformasi OJK-BEI-KSEI berhasil meningkatkan transparansi dan free float secara kredibel, maka peluang peningkatan bobot Indonesia dalam indeks global ke depan akan lebih besar yang pada akhirnya membuka ruang inflow yang lebih berkelanjutan,” jelas Nico.

Di sisi internasional, menyusul keputusan Donald Trump Presiden Amerika Serikat untuk memperpanjang gencatan senjata tanpa batas waktu guna menyelesaikan kesepakatan memberikan harapan pada pelaku pasar.

Meski begitu, Iran tetap tidak hadir dalam pertemuan pekan ini karena dirasa proposal dari AS merupakan permintaan yang tidak masuk akal.

“Berita mengenai perpanjangan waktu yang tidak terbatas, memberikan harapan tersendiri bagi pelaku pasar dan investor terkait dengan kepastian untuk mulai berinvestasi,” tutur Nico.

Perdagangan Selasa (21/4/2026) kemarin, bursa saham Eropa melemah serentak, diantaranya Euro Stoxx 50 melemah 1,01 persen, indeks FTSE 100 Inggris melemah 1,06 persen, indeks DAX Jerman melemah 0,60 persen, serta indeks CAC 40 Prancis melemah 1,14 persen.

Bursa AS Wall Street juga melemah pada Selasa (21/4/2026), di antaranya Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,59 persen ke 49.149,38, indeks S&P 500 melemah 0,63 persen ke 7.064,01, dan indeks Nasdaq Composite melemah 0,42 persen ke 26.479,47.

Bursa saham regional Asia pagi ini, antara lain indeks Nikkei menguat 180,33 poin atau 0,30 persen ke 59.529,50, indeks Shanghai menguat 3,48 poin atau 0,09 persen ke 4.088,55, indeks Hang Seng melemah 308,48 poin atau 1,16 persen ke 26.179,00, dan indeks Strait Times melemah 18,00 poin atau 0,36 persen ke 4.996,96. (ant/vve/ipg)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Kebakaran Rumah di Pengampon Surabaya

Surabaya
Rabu, 22 April 2026
28o
Kurs