Inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi pengetatan kebijakan moneter, sedangkan inflasi yang lebih rendah berpotensi meningkatkan peluang pelonggaran kebijakan. Investor selanjutnya akan mencermati data Producer Price Index (PPI) sebagai indikator tambahan mengenai tekanan harga.
Ketidakpastian geopolitik turut mendorong kenaikan harga sejumlah komoditas energi. Harga minyak Brent naik 1,72 persen menjadi sekitar 89 dolar AS per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) naik 1,30 persen ke atas 83 dolar AS per barel.
Harga batu bara termal naik 0,23 persen menjadi 129,3 dolar AS per ton. Sementara harga emas turun 0,52 persen menjadi 4.368 dolar AS per ons akibat aksi ambil untung.
Harga tembaga naik 0,3 persen ke atas 6,6 dolar AS per pound (lb), timah naik 0,40 persen menjadi 55.752 dolar AS per ton, sedangkan nikel turun 0,74 persen menjadi 16.820 dolar AS per ton seiring ekspektasi peningkatan pasokan dari Indonesia.
Di pasar global, bursa saham Eropa bergerak variatif pada perdagangan Selasa (11/8). Euro Stoxx 50 naik 0,01 persen, FTSE 100 Inggris turun 0,17 persen, DAX Jerman naik 0,30 persen, sementara CAC 40 Prancis melemah 0,10 persen.









