Menurut Nico, prospek stabil yang diberikan S&P mencerminkan keyakinan lembaga pemeringkat tersebut bahwa pemerintah tetap berkomitmen menjaga disiplin fiskal, termasuk mempertahankan defisit anggaran di bawah 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).
“Rating outlook stabil menunjukkan tetap terjaganya kepercayaan pemangku kepentingan internasional terhadap stabilitas makroekonomi dan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih solid,” ujarnya dilansir dari Antara.
Ia menambahkan, keputusan tersebut juga memperlihatkan kepercayaan investor terhadap kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
“Tetap dipertahankannya peringkat utang Indonesia di level BBB dengan outlook stabil juga menunjukkan kepercayaan terhadap kredibilitas kebijakan fiskal dan moneter,” kata Nico.
Di sisi lain, sentimen eksternal masih menjadi perhatian pelaku pasar. Bursa saham global dan kawasan Asia sempat tertekan setelah Donald Trump Presiden Amerika Serikat menyatakan akan kembali memberlakukan blokade terhadap pengiriman Iran melalui Selat Hormuz.

NOW ON AIR SSFM 100

