Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) melemah pada perdagangan Rabu (2/9/2026) pagi, mengikuti tren negatif bursa saham global dan Asia.
Tekanan datang di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia serta meningkatnya imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS).
IHSG yang sempat dibuka menguat berbalik melemah 37,34 poin atau 0,57 persen ke level 6.562,60 pada pukul 09.50 WIB.
Pelemahan juga terjadi pada kelompok 45 saham unggulan yang tercermin dari Indeks LQ45. Indeks tersebut turun 4,61 poin atau 0,70 persen menjadi 649,80.
Ratna Lim Kepala Riset Phintraco Sekuritas mengatakan pergerakan IHSG masih akan sangat bergantung pada kemampuannya bertahan di level teknikal tertentu.
“Jika IHSG mampu bertahan di atas 6.635, maka berpeluang akan menutup gap di 6.705. Jika tidak, diperkirakan IHSG akan berkonsolidasi pada kisaran 6.535-6.635,” ujar Ratna dilansir dari Antara.
Kenaikan harga minyak mentah menjadi salah satu sentimen utama yang membebani pasar saham. Harga minyak global pada perdagangan Selasa (1/9/2026) melonjak hampir 5 persen seiring meningkatnya ketegangan politik antara Amerika Serikat dan Iran.
Kenaikan harga minyak berpotensi memperbesar tekanan inflasi global. Kondisi tersebut turut meningkatkan perhatian investor terhadap arah kebijakan moneter bank sentral, khususnya Federal Reserve (The Fed).
Selain minyak, pasar obligasi AS juga menghadapi tekanan jual. Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun naik lebih dari 3 basis poin ke level 4,792 persen. Kenaikan yield tersebut terjadi di tengah kekhawatiran investor terhadap prospek inflasi.
Data pasar tenaga kerja AS menunjukkan perlambatan, tetapi kondisi ekonomi secara keseluruhan masih relatif tangguh.
Data Job Openings pada Juli 2026 mencatat 7,27 juta lowongan kerja, meningkat dari 7,18 juta pada Juni, meski masih di bawah perkiraan 7,33 juta.
Kondisi tersebut membuat pasar tetap mencermati peluang perubahan kebijakan suku bunga The Fed pada September 2026.
Tekanan terhadap pasar obligasi tidak hanya terjadi di AS. Imbal hasil obligasi pemerintah di sejumlah negara utama juga meningkat.
Yield obligasi AS tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak November 2023, sedangkan tenor dua tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2024.
Di Jepang, imbal hasil obligasi pemerintah tenor 10 tahun mencapai 3 persen untuk pertama kalinya sejak Agustus 1996.
Sementara itu, yield obligasi Jerman tenor 10 tahun mencapai level tertinggi sejak Maret 2011 dan yield obligasi pemerintah Inggris tenor 10 tahun menyentuh level tertinggi sejak Juli 2007.
Dari dalam negeri, sejumlah indikator ekonomi juga menjadi perhatian investor. Inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat 3,19 persen secara tahunan (year on year/yoy), meningkat dibandingkan 2,88 persen pada Juli 2026.
Kenaikan inflasi tersebut terutama dipengaruhi oleh meningkatnya harga makanan dan transportasi. Inflasi inti juga naik menjadi 2,96 persen yoy dari 2,76 persen pada bulan sebelumnya.
Sementara itu, kinerja sektor manufaktur kembali berada di zona kontraksi. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia turun menjadi 49,8 pada Agustus 2026 dari 50,2 pada Juli.
Meski kembali berada di bawah level 50 yang menandakan kontraksi, posisi tersebut masih lebih baik dibandingkan capaian pada April dan Juni 2026.
Dari sektor eksternal, neraca perdagangan Indonesia justru mencatatkan surplus 0,13 miliar dolar AS pada Juli 2026. Capaian ini menjadi perkembangan positif setelah neraca perdagangan mengalami defisit selama dua bulan berturut-turut.
Pemerintah sendiri menargetkan ekonomi Indonesia tumbuh 6 persen pada 2027. Untuk mencapai target tersebut, pertumbuhan investasi diproyeksikan perlu dipacu hingga 7 persen.
Target tersebut menjadi salah satu arah utama kebijakan ekonomi dan fiskal dalam penyusunan RAPBN 2027. Investasi pemerintah akan diarahkan sebagai katalis, sementara sektor swasta diharapkan menjadi motor utama pertumbuhan investasi.
Danantara juga diproyeksikan berkontribusi terhadap investasi di sektor-sektor strategis, termasuk pengembangan hilirisasi.
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pelemahan bursa saham terjadi hampir merata di pasar global.
Bursa Eropa pada Selasa (1/9/2026) bergerak negatif. Euro Stoxx 50 turun 0,81 persen, FTSE 100 Inggris melemah 0,32 persen, DAX Jerman turun 1,10 persen, sedangkan CAC 40 Prancis terkoreksi 0,39 persen.
Wall Street juga ditutup kompak melemah. S&P 500 turun 0,71 persen menjadi 7.631,47, Nasdaq Composite terkoreksi 1,03 persen ke 26.009,77, sementara Dow Jones Industrial Average turun 0,79 persen menjadi 52.766,88.
Sentimen negatif berlanjut ke pasar saham Asia pada perdagangan Rabu pagi. Nikkei Jepang turun 2,65 persen ke 64.456, Shanghai melemah 0,88 persen ke 3.944,68, Hang Seng turun 1,36 persen ke 24.990,76, dan Kospi terkoreksi 2,9 persen ke 6.637,52. Sementara Strait Times Singapura turun tipis 0,09 persen ke 5.705,60.
Dengan tekanan dari harga minyak, kenaikan yield obligasi global, serta pelemahan mayoritas bursa dunia, investor domestik kini mencermati kemampuan IHSG bertahan di area support 6.535-6.635. (ant/saf/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

