Ia menjelaskan, pasar akan mencermati pandangan Bank Indonesia terkait stabilitas nilai tukar rupiah, prospek inflasi, hingga potensi arus modal asing.
Menurutnya, dalam kondisi saat ini, investor justru lebih sensitif terhadap arah kebijakan atau forward guidance dibandingkan besaran perubahan suku bunga itu sendiri.
Hendra menilai, selama BI mampu menjaga keseimbangan antara stabilitas nilai tukar dan pertumbuhan ekonomi, respons pasar berpeluang tetap positif karena sebagian besar ekspektasi tersebut telah diperhitungkan investor.
Namun, apabila bank sentral memberikan sinyal pengetatan moneter yang lebih agresif, tekanan jangka pendek terhadap IHSG masih mungkin terjadi, terutama pada sektor-sektor yang sensitif terhadap kenaikan suku bunga.
Meski demikian, ia menilai langkah tersebut juga dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap stabilitas makroekonomi Indonesia.

NOW ON AIR SSFM 100

