Data tersebut mengindikasikan perekonomian AS masih relatif kuat meski inflasi tetap menjadi perhatian. Kondisi itu turut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada September 2026, dengan probabilitas sekitar 60 persen.
Di sisi lain, Donald Trump Presiden AS kembali mendesak The Fed menurunkan suku bunga setelah data ketenagakerjaan tersebut dirilis. Desakan itu menambah perhatian pasar terhadap independensi bank sentral AS.
Investor selanjutnya akan menunggu rilis data Producer Price Index (PPI) dan Consumer Price Index (CPI) AS untuk periode Agustus 2026.
Data tersebut dinilai penting untuk memberikan petunjuk tambahan mengenai arah kebijakan The Fed dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC) pada 16 September 2026.
Dari dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada prospek investasi sektor energi baru terbarukan (EBT). Minat investasi masih banyak mengarah ke Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), seiring teknologi panel surya yang semakin efisien dan matang.








