Kamis, 2 Juli 2026

Krisis Energi Jadi Alasan Purbaya Restui Insentif Mobil Listrik

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi pengisian kendaraan listrik di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) PLN yang memudahkan pemilik kendaraan mobil listrik. Infrastruktur SPKLU sudah tersebar di seluruh wilayah Indonesia dan untuk mengetahui lokasi SPKLU terdekat dapat dilihat pada aplikasi PLN Mobile. Foto : PLN

Pemerintah menilai insentif kendaraan listrik menjadi langkah strategis untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah ancaman krisis energi global akibat konflik geopolitik yang masih berlangsung.

Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) melihat potensi perang masih panjang dan diperlukan langkah menekan konsumsi energi.

“Kelihatannya itu perangnya masih panjang. Artinya konsumsi BBM kita juga akan masih tinggi dan dengan harga yang lebih tinggi. Jadi kalau saya bisa pindahkan ke listrik, itu akan mengurangi impor kita dengan signifikan,” kata Purbaya di kantor Kementerian Keuangan di Jakarta, Selasa (12/5/2026).

Purbaya menambahkan, proyeksi konsumsi BBM subsidi yang tinggi di tengah melambungnya harga minyak harus diantisipasi. Di mana kebijakan mengalihkan subsidi ke insentif kendaraan listrik dianggap sebagai langkah yang tepat.

“Kita lihat harga minyak dunia kan tidak akan turun. Setelah saya ke Amerika, saya pelajari cara Amerika melakukan diskusi dan mendesain ketentuan (negosiasi) yang diberikan untuk Iran, itu sepertinya desainnya untuk (negara) yang kalah perang,” jelas Purbaya.

Katanya, kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat masih belum terlihat. Di mana berakhirnya perang, paling cepat baru akan reda di September 2026.

“Paling jelek (akhir konflik) itu September, paling bagus September itu berakhir, karena di sana ada pemilihan kan di Amerika Serikat. Tapi bisa aja (konflik) jalan berlanjut terus, jadi kita akan melihat (kondisi) terus,” kata Purbaya.

Purbaya memastikan pemerintah bakal terus memantau perkembangan konflik Timur Tengah yang mempengaruhi harga energi.

Purbaya juga akan memanfaatkan produksi listrik dalam negeri, yang belum sepenuhnya terpakai namun sudah dibayar melalui skema Take or Pay (ToP).

“Ada listrik PLN yang tetap dibayar, tapi belum dipakai, itu mungkin kapasitas yang baru terpakai sekitar 70 persen, masih ada 30 persen listrik yang kita bayar tapi enggak dipakai kalau saya enggak salah ingat ya, saya mau pakai itu supaya subsidinya di PLN mengecil, BBM juga mengecil, itu utamanya,” pungkas Purbaya. (lea/saf/ipg)

Soerabaja10k
Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi di Ujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Kamis, 2 Juli 2026
26o
Kurs