Menurut Budi, defisit pada Mei tidak mengubah tren positif perdagangan Indonesia secara keseluruhan. Secara kumulatif, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari hingga Mei 2026 masih mencatat surplus 4,01 miliar dolar AS (sekitar Rp72,69 triliun).
Ia juga menyebut kinerja perdagangan selama lima bulan pertama tahun ini masih tumbuh positif, sehingga pemerintah tetap optimistis terhadap prospek ekspor nasional.
“Kalau Januari secara kumulatif Januari–Mei kan tetap naik, naik 3,9 persen. Kita tetap surplus US$4,01 miliar. Jadi hanya bulan Mei saja, tapi Januari–Mei secara kumulatif tetap surplus,” ujarnya.
Sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia defisit 1,61 miliar dolar AS (sekitar Rp29,19 triliun) pada Mei 2026. Defisit itu menjadi yang pertama dalam enam tahun terakhir.
Ateng Hartono Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS mengatakan, defisit tersebut terutama disebabkan oleh komoditas migas, khususnya hasil minyak dan minyak mentah.

NOW ON AIR SSFM 100

