“Mei tahun 2026, neraca perdagangan barang mengalami defisit sebesar 1,61 miliar Dollar AS atau minus 1,61 miliar Dollar AS. Nah, defisit pada bulan Mei tahun 2026 disebabkan terutama defisit pada komoditas migas, sebesar defisitnya minus 3,76 miliar Dollar AS. Penyumbang defisit komoditas migas yaitu dari hasil minyak dan juga dari minyak mentah,” kata Ateng di Jakarta, Rabu (1/7/2026).
BPS mencatat nilai impor Indonesia pada Mei 2026 lebih tinggi dibandingkan ekspor. Total impor mencapai 24,81 miliar dolar AS (sekitar Rp449,76 triliun), sementara ekspor tercatat 23,20 miliar dolar AS (sekitar Rp420,57 triliun).
“Pada bulan Mei tahun 2026 total nilai impor mencapai 24,81 miliar Dollar AS, atau meningkat 22,16 persen jika dibandingkan dengan Mei tahun 2025 yang lalu. Nilai impor migas 4,51 miliar Dollar AS, meningkat 70,78 secara tahunannya. Impor non migas senilai 20,30 miliar Dollar AS mengalami peningkatan secara tahunannya sebanyak 14,89 persen,” ujarnya.
Jika dikonversi ke rupiah, nilai impor migas pada Mei 2026 sebesar 4,51 miliar dolar AS setara sekitar Rp81,76 triliun. Sementara impor nonmigas 20,30 miliar dolar AS (sekitar Rp368,00 triliun).
Ateng menegaskan, defisit pada Mei 2026 terutama didorong oleh neraca perdagangan migas yang tercatat minus 3,76 miliar dolar AS (sekitar Rp68,16 triliun).

NOW ON AIR SSFM 100

