“Untuk neraca perdagangan di bulan Mei tahun 2026 ini mengalami defisit didorong. Kalau kami amati ya oleh defisit neraca perdagangan migas itu sampai defisitnya mencapai 3,76 miliar Dollar AS,” ujarnya.
Meski Mei mencatat defisit, kinerja ekspor secara kumulatif masih tumbuh. Sepanjang Januari hingga Mei 2026, total nilai ekspor Indonesia mencapai 115,36 miliar dolar AS (sekitar Rp2.091,25 triliun), naik 3,02 persen secara tahunan.
Nilai ekspor migas tercatat 5,17 miliar dolar AS (sekitar Rp93,72 triliun). Sementara ekspor nonmigas mencapai 110,19 miliar dolar AS (sekitar Rp1.997,52 triliun). Menurut Ateng, peningkatan ekspor nonmigas secara kumulatif terutama ditopang sektor industri pengolahan.
“Nah, kalau kita lihat menurut sektornya peningkatan nilai ekspor non-migas secara kumulatif tersebut ini didorong oleh sektor industri pengolahan. Sektor industri pengolahan menjadi pendorong utama peningkatan kinerja ekspor non-migas sepanjang Januari sampai dengan Mei tahun 2026. Nah andil industri pengolahan ini terhadap peningkatan ekspor sebesar 5,38 persen,” pungkasnya. (lea/bil/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

