Senin, 22 Juni 2026

Purbaya Yakin Harga Pertamax Turun Seiring Redanya Tekanan Ekonomi Global

Laporan oleh Lea Citra Santi Baneza
Bagikan
Ilustrasi petugas mengisi BBM Pertamax di stasiun pengisian bahan bakar umum. Foto: Pertamina

Purbaya Yudhi Sadewa Menteri Keuangan (Menkeu) optimistis harga bahan bakar minyak (BBM) non subsidi seperti Pertamax berpotensi mengalami penurunan seiring meredanya tekanan ekonomi global dan membaiknya situasi geopolitik internasional.

Menurut Purbaya, kondisi ekonomi dunia dalam beberapa waktu terakhir mulai menunjukkan perbaikan setelah ketegangan di kawasan Timur Tengah berangsur mereda, termasuk peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

“Apabila kita cermati perekonomian global masih dibayangi ketidakpastian. Namun tekanannya sudah mulai menurun. Terutama dalam satu pekan terakhir dengan adanya perdamaian, hampir damai, antara Amerika dan Iran yang peluangnya semakin terbuka. Hal ini ditunjukkan oleh beberapa indikator politinisitas dan ketahanan pasar yang mulai mereda,” kata Purbaya saat Rapat Kerja Komite IV Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Senin (22/6/2026).

Ia menjelaskan, meningkatnya tensi konflik Timur Tengah sebelumnya turut memberikan tekanan terhadap harga minyak dunia. Kondisi tersebut berdampak terhadap penyesuaian harga sejumlah BBM non subsidi di dalam negeri.

Purbaya menilai, apabila harga minyak dunia kembali turun akibat kondisi global yang lebih stabil, maka harga BBM seperti Pertamax juga memiliki peluang untuk menyesuaikan.

“Kita terpaksa menaikkan sebagian harga BBM yang tidak bersubsidi. Walaupun yang bersubsidi kita pertahankan, tapi itu kan sudah menimbulkan kegaduhan. Saya yakin, dengan potensi menurunnya harga minyak dunia, harga Pertamax dan lain-lain pun akan turun,” ujarnya.

Di tengah tekanan ekonomi global, Purbaya menyebut fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi positif. Pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal I 2026 tercatat mencapai 5,61 persen, sementara inflasi tetap terkendali.

Selain itu, neraca perdagangan Indonesia mencatat surplus selama 72 bulan berturut-turut hingga April 2026. Kondisi tersebut didukung oleh cadangan devisa yang memadai, pertumbuhan kredit dua digit, serta sektor manufaktur yang kembali berada dalam fase ekspansi.

“Hal ini mengindikasikan market confidence meningkat. Dengan peluang perdamaian AS dan Iran yang terbuka, diharapkan akan semakin meningkatkan stabilitas nilai tukar, cost of fund semakin kompetitif, investasi menguat dan pada akhirnya momentum pertumbuhan dapat terus diperkuat,” ungkapnya.

Meski begitu, Purbaya mengakui belakangan terjadi pelemahan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

“Kami menyadari dalam beberapa bulan terakhir pasar keuangan menghadapi tekanan. Namun dengan kondisi dengan koordinasi dan kolaborasi yang solid antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan, nilai tukar rupiah mulai menguat, IHSG mulai rebound, yield menurun, dan arus modal mencatatkan inflow,” ujarnya.

Purbaya yakin, perekonomian telah melewati masa-masa sulit, dan sekarang hanya perlu menguatkan fondasi ekonomi.

“Jadi memang ketika ketidakpastian meningkat seperti kemarin, harga minyak dunia tinggi sekali. Kita dalam ujian yang berat. Tapi kalau dari dari data yang kita lihat sekarang, sepertinya kita sudah melewati masa ujian itu. Ke depan tinggal memperbaiki pondasi yang sudah ada. Supaya dengan perbaikan yang ada kita bisa tumbuh lebih optimal,” pungkasnya. (lea/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Sepeda Motor Terbakar di Genteng Besar

Pelangi Diujung Pagi Surabaya

Mobil Masuk Saluran Air

Perjalanan Menuju Arafah

Surabaya
Senin, 22 Juni 2026
30o
Kurs