Nilai tukar rupiah menguat pada awal perdagangan Rabu (7/10/2026) seiring investor mencermati sejumlah indikator ekonomi yang berpotensi memengaruhi pergerakan pasar valuta asing.
Rupiah dibuka naik 33 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp17.866 per dolar AS, dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya sebesar Rp17.899 per dolar AS.
Lukman Leong Analis Doo Financial mengatakan, penguatan rupiah berlangsung ketika pelaku pasar memilih bersikap wait and see menjelang rilis data cadangan devisa (cadev) Indonesia dan risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) Amerika Serikat.
“Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini dan risalah pertemuan (minutes) FOMC malam ini,” kata Lukman dilansir dari Antara.
Risalah FOMC menjadi perhatian pasar karena dapat memberikan gambaran lebih rinci mengenai pertimbangan para pembuat kebijakan Federal Reserve dalam menentukan arah suku bunga serta penilaian mereka terhadap risiko inflasi.
Data CME FedWatch menunjukkan probabilitas kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober berada di sekitar 24 persen. Angka tersebut turun signifikan dibandingkan sekitar 71 persen pada pekan sebelumnya.
Di sisi domestik, pasar juga menantikan data cadangan devisa Indonesia. Cadangan devisa diperkirakan turun dari 146,5 miliar dolar AS pada akhir Agustus 2026 menjadi sekitar 144 miliar dolar AS.
Menurut Lukman, pergerakan indeks dolar AS turut memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat.
“Indeks dolar AS sendiri terpantau terkoreksi oleh rebound pada Euro,” ujarnya.
Dengan mencermati sentimen global dan domestik tersebut, Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah bergerak dalam rentang Rp17.850 hingga Rp17.950 per dolar AS pada perdagangan Rabu. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

