Menurut Ibrahim, kenaikan harga minyak dipicu meningkatnya eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
Selama akhir pekan, kedua negara dilaporkan kembali saling melancarkan serangan yang meningkatkan ketidakpastian di pasar energi global.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan telah melancarkan serangan lanjutan ke sejumlah target di Iran pada Minggu (19/7/2026) malam.
Serangan itu merupakan respons atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania yang menewaskan sedikitnya dua tentara Amerika dan melukai sejumlah personel lainnya.
Konflik juga berpusat di kawasan Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran minyak paling strategis di dunia. Menurut Ibrahim, terganggunya arus pengiriman minyak melalui kawasan tersebut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan energi global.







