Berdasarkan laporan S&P Global, peningkatan produksi dipicu membaiknya permintaan pasar dan meningkatnya kepercayaan pelanggan. Namun, laju ekspansi masih dibayangi kenaikan harga bahan baku yang menekan biaya produksi.
Selain data manufaktur, sentimen positif bagi rupiah juga datang dari perkembangan inflasi nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,14 persen secara bulanan (month to month/MtM) pada Juni 2026. Kondisi tersebut berbalik dari Mei 2026 yang masih mencatat inflasi sebesar 0,44 persen.
Di sisi eksternal, pasar turut merespons perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Donald Trump Presiden Amerika Serikat (AS) dilaporkan membatalkan rencana serangan militer besar terhadap Iran setelah negara-negara di kawasan tersebut meminta waktu untuk membuka jalur negosiasi.
Menurut Ibrahim, perkembangan tersebut langsung memengaruhi pasar energi global.
“Pernyataan tersebut memicu penurunan tajam harga minyak sebesar lebih dari 5 dolar AS per barel pada awal perdagangan di Asia, sekaligus meredakan kekhawatiran bahwa gangguan pasokan yang berkepanjangan akan mempertahankan tingkat inflasi yang tinggi dan memperkuat alasan bagi penerapan kebijakan moneter yang lebih ketat,” katanya.








