Selasa, 6 Oktober 2026

Rupiah Ditutup Menguat ke Rp17.899 per Dolar AS, Ini Pemicunya

Laporan oleh Muhammad Syafaruddin
Bagikan
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Selasa (6/10/2026).

Rupiah naik 18 poin atau 0,10 persen menjadi Rp17.899 per dolar AS dari penutupan sebelumnya Rp17.917 per dolar AS.

Ibrahim Assuabi analis mata uang mengatakan, penguatan rupiah dipengaruhi menurunnya potensi kenaikan suku bunga bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

“Data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang,” ucap Ibrahim.

Salah satu indikator yang menjadi perhatian pasar adalah data Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat.

PCE Price Index tercatat 3,4 persen secara tahunan atau year on year (yoy) pada Agustus 2026, lebih rendah dari konsensus pasar sebesar 3,7 persen yoy.

Tekanan terhadap dolar AS juga datang dari data ketenagakerjaan. Nonfarm payrolls (NFP) AS dilaporkan hanya bertambah 29 ribu lapangan kerja pada September 2026, jauh di bawah perkiraan.

Tingkat pengangguran AS juga naik menjadi 4,2 persen pada September dari 4,1 persen pada bulan sebelumnya.

Dilansir dari Antara, kenaikan lapangan kerja September tersebut jauh lebih rendah dibandingkan Agustus yang mencapai 133 ribu.

Sebelumnya, ekonom yang disurvei Reuters dan The Wall Street Journal memperkirakan pertambahan payroll September berada di kisaran 84 ribu hingga 90 ribu.

Data ketenagakerjaan periode sebelumnya juga mengalami revisi. Pertumbuhan NFP Juli direvisi dari 21 ribu menjadi minus 10 ribu. Sementara itu, angka Agustus direvisi turun dari 162 ribu menjadi 133 ribu.

Dengan revisi tersebut, penurunan total pertumbuhan lapangan kerja nonpertanian untuk dua bulan sebelumnya mencapai 60 ribu.

Menurut Ibrahim, pasar selanjutnya menantikan sejumlah data penting dari AS, termasuk risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September yang dijadwalkan rilis Rabu (7/10/2026), serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis (8/10/2026).

“Saat ini, pasar menantikan rilis risalah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) September pada Rabu serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada Kamis,” ungkapnya.

Di tengah sentimen global tersebut, pasar juga mendapat sentimen positif dari proyeksi Bank Dunia terhadap perekonomian Indonesia.

Bank Dunia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 mencapai 5,2 persen, atau naik 0,5 poin persentase dari proyeksi sebelumnya.

Ibrahim mengatakan kenaikan proyeksi tersebut mencerminkan penguatan konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun.

“Lonjakan pertumbuhan ini mencerminkan menguatnya konsumsi swasta dan peningkatan pengeluaran publik pada pergantian tahun. Momen Ramadan dan Idulfitri yang datang lebih awal, pencairan THR (Tunjangan Hari Raya) dan gaji ke-13, serta percepatan peluncuran program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebut berhasil menggeser pengeluaran pemerintah menjadi lebih awal dalam siklus fiskal,” katanya.

Meski demikian, Bank Dunia menilai aktivitas ekonomi domestik menunjukkan pelemahan setelah periode tersebut. Hal itu antara lain tercermin dari indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur yang turun menjadi 49,3 pada Agustus serta indeks kepercayaan konsumen yang melemah menjadi 116,8 pada Juli.

Pelebaran defisit juga menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi fiskal dan peringkat utang negara.

Bank Dunia memperkirakan defisit transaksi berjalan Indonesia melebar menjadi 1,5 persen terhadap produk domestik bruto (PDB) pada 2026. Sementara itu, inflasi diproyeksikan tetap berada di sekitar batas atas sasaran inflasi Bank Indonesia dan pemerintah sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen.

Sementara itu, berdasarkan kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia, rupiah juga menguat. JISDOR berada di level Rp17.910 per dolar AS, dibandingkan posisi sebelumnya Rp17.917 per dolar AS. (ant/saf/ipg)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Cuaca di Pos Pantau Gunung Merapi Cerah

Posisi Mobil Tersangkut di Viaduk dari Belakang

Tersangkut di Bawah Viaduk Gubeng

Kecelakaan Beruntun di Tol Waru Arah Perak

Surabaya
Selasa, 6 Oktober 2026
29o
Kurs