Menurut Warsh, perkembangan sejak pertemuan September secara umum masih sesuai dengan perkiraan.
Para pengambil kebijakan akan mengevaluasi data mengenai pertumbuhan output, ketenagakerjaan, dan inflasi sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan pada pertemuan Oktober dan Desember.
Warsh memilih tidak mendahului keputusan tersebut. Ia menyebut pendekatan itu sebagai bagian dari babak baru di tubuh The Fed.
Selain kebijakan moneter AS, tekanan terhadap rupiah juga dipengaruhi ketidakpastian geopolitik. Pembicaraan antara AS dan Iran masih menemui jalan buntu, sedangkan ketegangan antara Arab Saudi dan kelompok Ansarullah di Yaman dilaporkan meningkat.
“Di tengah situasi ini, para pelaku pasar secara luas memperkirakan The Fed akan kembali menaikkan suku bunga sebelum akhir tahun,” ujar Ibrahim.
Sementara itu, Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia pada hari yang sama tercatat menguat ke level Rp18.050 per dolar AS, dari posisi sebelumnya Rp18.052 per dolar AS. (ant/saf/ipg)
NOW ON AIR SSFM 100

