Selasa, 12 Mei 2026

Rupiah Melemah Tembus Rp17.503, Tertekan Konflik di Selat Hormuz

Laporan oleh Ika Suryani Syarief
Bagikan
Ilustrasi - Petugas menunjukkan uang pecahan dolar AS dan rupiah di gerai penukaran mata uang asing di Jakarta. Foto: Antara

Nilai tukar rupiah melemah ke level Rp17.503 per dolar AS pada Selasa siang, atau turun 89 poin dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.414 per dolar AS. Pelemahan ini terjadi di tengah meningkatnya tekanan global, terutama akibat memanasnya situasi di Selat Hormuz yang kembali memicu kekhawatiran pasar.

Pengamat ekonomi mata uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketegangan di jalur strategis energi dunia itu masih menjadi faktor utama yang menekan rupiah. “Ketegangan di Selat Hormuz ini masih terus memanas walaupun dianggap bahwa perang ini sudah usai kata Trump (Presiden AS Donald Trump),” katanya seperti dilaporkan Antara, Selasa (12/5/2026).

Menurut Ibrahim, situasi memanas setelah Amerika Serikat menolak proposal perdamaian dari Iran, yang kemudian diikuti serangan-serangan kecil antar kapal di Selat Hormuz. Ia juga menyoroti keterlibatan Uni Emirat Arab dalam konflik tersebut melalui serangan ke kilang minyak di Pulau Lavan, Iran.

“Jadi Uni Emirat Arab sampai saat ini pun juga terus melakukan penyerangan, walaupun tidak di-expose secara internasional. Ini mengindikasikan bahwa Uni Emirate Arab pun juga setelah keluar dari negara-negara anggota OPEC (Organization of the Petroleum Exporting Countries) terus melakukan penyerangan, bisa saja di belakangnya itu adalah Amerika,” ungkap dia.

Konflik di Timur Tengah, lanjut Ibrahim, mendorong penguatan indeks dolar AS secara signifikan dan berimbas pada kenaikan harga minyak mentah dunia, terutama Brent crude oil. Kondisi ini ikut menambah tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Dari dalam negeri, Ibrahim menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 yang mencapai 5,61 persen belum cukup kuat menopang rupiah. Menurut dia, pertumbuhan itu lebih banyak ditopang konsumsi masyarakat dan belanja negara, sementara investasi belum memberikan kontribusi besar.

“Walaupun pertumbuhan ekonomi di 5,61 (persen) di kuartal pertama cukup tinggi, namun dampak dari kekacauan di Timur Tengah, terutama adalah Selat Hormuz, ini membuat ancaman tersendiri bagi Indonesia,” ujarnya.

Ia juga menyoroti tekanan dari kondisi ketenagakerjaan. Selama Januari hingga April 2026, sekitar 40 ribu buruh di sektor padat karya seperti tekstil, garmen, dan elektronik disebut terkena pemutusan hubungan kerja. Selain itu, besarnya jumlah pekerja di sektor nonformal yang mencapai 87,74 juta orang juga dinilai menjadi sentimen negatif bagi pasar.

Di sisi lain, pelaku pasar masih menunggu rilis data dari Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang disebut berpotensi menurunkan peringkat saham Indonesia. Berdasarkan berbagai faktor tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah masih berpotensi melemah, namun tidak akan melampaui Rp17.550 per dolar AS.(ant/iss/ham)

Berita Terkait


Potret NetterSelengkapnya

Surabaya Siang Hari, Bunga Tabebuya Bermekaran Lagi

Kebakaran Gudang di Jalan Jawar Surabaya

Perbaikan Pipa PDAM Bocor di Jemursari

Kebakaran Rusunawa Sombo Surabaya

Surabaya
Selasa, 12 Mei 2026
34o
Kurs