Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS bergerak menguat 27 poin atau 0,15 persen menjadi Rp17.857 per dolar AS pada pembukaan perdagangan Rabu (23/9/2026). Jika dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.884 per dolar AS.
Saudara Rully Nova Analis Bank Woori mengatakan penguatan rupiah dipengaruhi oleh potensi Bank Indonesia (BI) akan menahan suku bunga dalam pertemuan Rapat Dewan Gubernur (RDG) hari ini.
“Rupiah hari ini diperkirakan menguat pada kisaran Rp17.830-Rp17.880 dipengaruhi oleh domestik hasil keputusan RDG BI hari ini yang diperkirakan akan menahan suku bunga acuan di 5,75 persen,” ungkapnya di Jakarta, Rabu (23/9/2026), dilansir dari Antara.
Sejumlah ekonom telah memperkirakan suku bunga acuan (BI-Rate) tetap di level 5,75 persen pada RDG BI September 2026 ini, dengan peluang kenaikan akan terjadi pada akhir tahun jika tekanan eksternal semakin berkelanjutan.
Adanya peningkatan konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina meyebabkan beberapa bank sentral meninjau kembali sikap kebijakan moneternya, termasuk The Fed, European Central Bank, dan Bank of Japan.
Meskipun kondisi pasar tenaga kerja AS relatif tetap kuat, The Fed menunjukkan kenaikan suku bunga lebih lanjut masih dapat menjadi opsi pada tahun ini.
Secara umum, tekanan global terutama datang dari kombinasi kebijakan tegas The Fed yang lebih hawkish, penguatan dolar AS, ketidakpastian geopolitik, dan harga minyak yang tinggi.
Rully menilai, BI pada hari ini akan menunjukkan sikap hawkish untuk menjaga stabilitas rupiah melalui perluasan instrumen seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI), pasar valas spot, hingga derivatif Non-Deliverable Forward (NDF) dan swap.
“Dari global, harga minyak menunjukkan tren penurunan mendorong penurunan indeks dolar dan yield obligasi pemerintah AS,” ungkapnya.(ant/fia/ipg)

NOW ON AIR SSFM 100

