Selasa, 19 Januari 2021

Unair Temukan Enam Genom Utuh SARS-Cov-2

Laporan oleh Agung Hari Baskoro
Bagikan
Prof. Mohammad Nasih Rektor Unair Surabaya. Foto: Baskoro suarasurabaya.net

Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menemukan enam genom utuh atau sidik jari yang mengidentifikasi virus, dari sampel yang diambil Maret dan April 2020 terkait virus SARS-Cov-2.

Dalam genetika dan biologi molekular modern, genom adalah keseluruhan informasi genetik yang dimiliki suatu sel atau organisme, atau khususnya keseluruhan asam nukleat yang memuat informasi tersebut. Jika genom milik manusia dan makhluk hidup bersel lainnya terbuat dari DNA (asam deoksiribonukleat), genom sejumlah virus terbuat dari RNA (asam ribonukleat).

Prof. Mohammad Nasih Rektor Unair Surabaya mengatakan, penemuan enam genom utuh itu akan segera di-upload di GISAID (organisasi penelitian dunia). Temuan ini juga akan dilakukan proses lebih lanjut.

“Jadi ini nanti kita segera upload di GISAID (organisasi penelitian dunia), karena ini menjadi temuan yang menurut saya sangat strategis. Karena temuan genom utuh khas Indonesia ini akan dilakukan proses lebih lanjut,” kata Prof. Nasih yang menjabat rektor untuk kedua kalinya itu.

Nasih menjelaskan, dari enam genom utuh yang ditemukan Unair, ada beberapa hal yang menarik. Salah satunya tipe pola yang mengikuti China.

“Pertama adalah berdasarkan waktunya untuk sampel yang diambil Bulan Maret itu dari 4 sampel, 3 tipe polanya itu mengikuti China. Sementara 2 sampel yang diambil bulan April itu tipe polanya mengikuti dan mirip tipe di Eropa. Sementara kemarin ekspor kan kawan-kawan cenderung di Asia nah kita ada 2 tipe yang bisa diidentifikasi dan akan terus kita dorong dan dikembangkan,” jelasnya.

Selain itu, Prof Maria Inge Lusida Kepala ITD Unair mengatakan, enam genom utuh yang ditemukan ini sudah cukup bagus dan bisa dianalisa. Sampel yang diteliti juga didapat dari beberapa daerah di Indonesia.

Selanjutnya Inge mengatakan, penelitian akan terus dilanjutkan dengan mengambil sampel lagi dari beberapa daerah di Indonesia agar DNA-nya bisa diurutkan. Bila dalam mengurutkannya tidak ada yang terlewat, berarti tidak ada virus yang bermutasi di Indonesia.

“Tapi kalau tidak urut, berarti ada virus yang bermutasi,” pungkasnya. (bas/ang/iss)

Berita Terkait

Potret NetterSelengkapnya

Truk Mogok di Manyar Gresik

Jeglongan di Wedi Gedangan

Jalan Rusak di Brigjend Katamso Sudah Ditambal

… Lewati Lembah, Sungai Mengalir, Eh Bukan

Surabaya
Selasa, 19 Januari 2021
29o
Kurs