Rabu, 6 Juli 2022

Platform Medical Tourism Padukan Konsep Hospital dengan Hospitality

Laporan oleh Dhafintya Noorca
Bagikan
dr Niko Azhari Hidayat SpBTKV Chief Excecutive Medical Tourism saat mempresentasikan Medical Tourism di depan Dewan Juri Surabaya Businees Forum, Sabtu (21/5/2022). Foto: Retha suarasurabaya.net

Platform Medical Tourism terpilih sebagai 5 besar peserta pitching investment challenge dalam acara Surabaya Business Forum yang digelar di Balai Pemuda Surabaya, Sabtu (21/5/2022).

Program digital yang mengintegrasikan bidang kesehatan dan pariwisata tersebut menjadi salah satu terobosan bidang ekonomi kreatif.

Medicaltourism.id merupakan platform kesehatan digital yang mengoptimalkan layanan wisata kesehatan di Indonesia dengan memadukan konsep hospital (rumah sakit) dan hospitality (keramahtamahan) dalam satu kesatuan.

Medical Tourism mengakomodir tren baru pariwisata yang semakin berkembang melalui dua aspek, yaitu medical tourism dan wellness tourism,” kata Niko Azhari Hidayat, Chief Excecutive Medical Tourism.

Aplikasi usaha rintisan (startup) kreasi arek Suroboyo itu ditempa di lingkungan kampus Universitas Airlangga Surabaya oleh Dokter Niko bersama dua rekannya yaitu Nurdin Maharyanto dari Surabaya Creative Design dan Syamsul Qomar sebagai Founder Agenda Kota dan Daily Hotels.

“Kami ingin orang Indonesia tahu kini tak perlu lagi keluar negeri untuk mendapatkan layanan unggulan kesehatan karena Indonesia sudah mulai berbenah jadi lebih baik,” imbuhnya.

Dokter Niko menyebut, aplikasi Medical Tourism yang sudah soft launching sejak 2021 telah tersedia dan bisa diunduh di Play Store.

Bukan cuma berisi deretan nama rumah sakit dan fasilitasnya, aplikasi Medical Tourism, lanjut Niko, juga menyediakan informasi terkait hotel terdekat serta layanan transportasinya.

Dengan aplikasi Medical Tourism, masyarakat bisa mengakses layanan kesehatan unggulan untuk kesehatan jantung, onkologi, syaraf, mata hingga bayi tabung.

Masyarakat juga bisa mengakses informasi layanan unggulan mau pun layanan prima dan umum melalui profil rumah sakit.

“Layanan spesial di aplikasi Medical Tourism juga tersedia Health Tourism Guide, Medical Evacuation, helikopter hingga air ambulance. Jadi memang one stop service. Semua kami coba integrasikan untuk melayani masyarakat yang ingin mengakses rumah sakit,” imbuhnya.

Dia menambahkan, ide bisnis itu muncul untuk mendorong fasilitas layanan kesehatan, tenaga medis dan infrastruktur kesehatan di Indonesia supaya semakin baik.

“Kami harap hadirnya layanan Medical Tourism bisa membuat pihak rumah sakit dan petugas medis berlomba-lomba meningkatkan standar pelayanannya, dan berlomba-lomba memberikan pelayanan terbaik. Semakin baik sebuah layanan kesehatan, semakin banyak yang jadi destinasi pengunjung,” katanya.

Lebih lanjut, Dokter Niko menyadari dalam hal pengembangan wisata kesehatan perlu dukungan kuat dari semua pihak.

“Dukungan kebijakan yang kuat, iklim politik yang stabil, sumber daya manusia, pengembangan infrastruktur dan daya tarik wisata. Kamk butuh sinergitas lintas sektor,” ungkapnya.

Dengan pembenahan total dalam aspek medis, pariwisata dan pendukung, maka bukan tidak mungkin Indonesia segera menjadi tujuan medical tourism untuk penduduk kawasan Asia.

“Hal ini akan berdampak besar. Keberhasilan program ini akan dirasakan banyak pihak. Pertama, akan membawa kembali devisa negara yang ke luar negeri lewat Sustainability Program Medical Tourism Indonesia, membawa citra baik bagi fasilitas medis Indonesia di mata dunia,” paparnya.

Lalu, Dokter Nico melanjutkan ide itu akan mendorong terciptanya pelayanan kesehatan dan pariwisata yang kompetitif, serta punya daya saing tinggi supaya Warga Negara Indonesia bangga berobat di negeri sendiri.

“Terakhir, dampak positifnya tentu menggerakan perekonomian di berbagai sektor dan menciptakan banyak lapangan kerja baru,” pungkasnya.(tha/dfn/rid)

Berita Terkait

Surabaya
Rabu, 6 Juli 2022
27o
Kurs